Loading...
Loading...
26 Aug 2026 • 5 min read

Di tengah silih bergantinya tren minuman kekinian, Es Dawet Ireng Pawon Jiwandono membuktikan bahwa cita rasa tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Berawal dari modal Rp5 juta yang dipinjamkan sang adik pada 2018, usaha milik Siti Aminah kini berkembang dengan jaringan reseller dan mampu mencatat omzet lebih dari Rp7 juta per bulan pada periode penjualan terbaik.
Bagi Siti Aminah, membangun usaha bukan sekadar mencari penghasilan tambahan. Keputusan tersebut lahir dari keinginannya membantu perekonomian keluarga. Berasal dari Purworejo, ia melihat belum ada penjual dawet ireng di wilayah tempat tinggalnya di Bogor. Berbekal resep keluarga dan keyakinan bahwa minuman tradisional masih memiliki pasar, ia mulai berjualan dari nol.
"Awalnya saya hanya ingin membantu suami mencari nafkah. Adik saya menyarankan berjualan dawet ireng karena di daerah saya belum ada yang menjual. Saya belajar resep dari adik, lalu memulai usaha dengan modal Rp5 juta," ujar Siti Aminah.
Modal awal yang hanya Rp5 juta, pinjaman dari sang adik digunakan untuk membeli bahan baku dan peralatan dasar: gula aren, sagu aren, dan santan kelapa. Tak butuh waktu lama, dagangan mulai laris dan perputaran modal berjalan dengan baik.
Es Dawet Ireng Pawon Jiwandono sangat disukai karena keunikan warna hitam alami pada dawet ireng yang berasal dari sekam atau kulit padi, berbeda dengan dawet ayu yang berwarna hijau dan berbahan dasar tepung beras. Keunikan inilah yang menjadi pembeda sekaligus daya tarik tersendiri.
Seperti pelaku UMKM kuliner lainnya, tantangan terbesar yang dihadapi adalah kenaikan harga bahan baku yang datang silih berganti. Misalnya saja seperti gula aren, santan, dan sagu aren beberapa kali menekan biaya produksi. Di sisi lain, tren minuman modern seperti boba juga sempat mengubah preferensi konsumen.
Alih-alih mengikuti tren, Siti memilih mempertahankan identitas produknya sebagai minuman tradisional sambil menghadirkan inovasi yang lebih dekat dengan selera generasi muda. Dawet ireng kini dapat dinikmati dengan berbagai pilihan topping seperti durian, keju, hingga nangka.
"Yang saya jaga adalah kualitas rasa. Pembeli percaya dan terus kembali. Dawet ireng memang minuman tradisional, tetapi bisa dikemas lebih kekinian tanpa menghilangkan cita rasanya," katanya.
Selain menjaga kualitas produk, Siti juga mulai memperluas sumber pendapatan dengan menerima pesanan untuk berbagai acara seperti arisan keluarga, syukuran, hingga ulang tahun. Saat musim hujan, ketika penjualan minuman cenderung menurun, ia turut memproduksi peyek sebagai produk pelengkap agar arus kas usaha tetap berjalan.

Pandemi COVID-19 menjadi salah satu titik terberat dalam perjalanan usahanya. Aktivitas berjualan sempat berhenti total sehingga pemasukan keluarga ikut terdampak. Kesempatan mengikuti bazar UMKM menjadi titik balik yang membantunya kembali membangun usaha.
Seiring meningkatnya permintaan, kebutuhan modal usaha pun bertambah. Sekitar tiga tahun terakhir, Siti memanfaatkan pembiayaan dari Amartha untuk mengembangkan usahanya, mulai dari menyewa kedai, menambah reseller, hingga merekrut karyawan.
"Alhamdulillah usaha semakin berkembang, semakin banyak yang mengenal produk kami. Modal usaha dari Amartha membantu saya menyewa kedai, menambah karyawan, dan memperluas usaha," ujarnya.
Sejak hampir tiga tahun bergabung sebagai mitra Amartha, usaha ini mengalami banyak kemajuan. Akses permodalan yang mudah, mulai dari Rp5 juta hingga Rp8 juta, membantunya menyewa kedai bersama rekan dan menggaji karyawan. Ia juga aktif dalam komunitas Amartha UMKM Champion, yang menurutnya membuka banyak wawasan baru serta kesempatan mengikuti berbagai program dan pelatihan.
Tak hanya memperoleh akses pembiayaan, Siti juga aktif mengikuti berbagai pelatihan dan kegiatan komunitas yang difasilitasi Amartha. Menurutnya, kesempatan tersebut membuka wawasan baru mengenai pengembangan usaha, mulai dari legalitas, sertifikasi halal, hingga penguatan merek.
Saat ini Es Dawet Ireng Pawon Jiwandono mempekerjakan dua orang karyawan serta melayani pengiriman hingga luar Bogor melalui jaringan pelanggan dan reseller.
Di tengah maraknya tren minuman yang silih berganti, Siti justru melihat minuman tradisional memiliki peluang jangka panjang.
Kini, omzet bulanan usahanya berkisar Rp5 juta hingga Rp8 juta, tergantung musim. Dengan harga jual yang tetap ramah kantong mulai dari Rp5.000 untuk cup kecil hingga Rp15.000 untuk cup 350ml, dawet ireng ini tetap menjadi pilihan yang digemari lintas generasi.
Harapannya sederhana: terus mendapat dukungan permodalan dan pelatihan agar usaha warisan tradisional ini bisa terus berkembang, sekaligus mewujudkan mimpi memiliki tempat usaha sendiri.
Kisah ini membuktikan di tengah derasnya tren minuman kekinian yang datang dan pergi, minuman tradisional seperti dawet ireng justru mampu bertahan karena konsistensi rasa, kepercayaan pelanggan, dan semangat pantang menyerah dari pelakunya.
"Minuman viral biasanya hanya ramai sementara. Dawet ireng sudah saya jalankan hampir delapan tahun dan sampai sekarang masih stabil. Harapan saya kedepan bisa memiliki tempat usaha sendiri agar usaha ini terus berkembang," tutupnya.
Tags