Bisnis & UMKM

Termin: Jadwal Pembayaran yang Disepakati

04 Oct 2026 • 5 min read

Ditulis oleh Tim Blog Amartha
Termin: Jadwal Pembayaran yang Disepakati

Pembayaran dalam transaksi bisnis sering kali tidak dilakukan sekaligus. Pihak pembeli dan penjual dapat menyepakati waktu, jumlah, serta syarat pembayaran sejak awal melalui kontrak atau invoice. Pola inilah yang umum disebut termin pembayaran.

Termin adalah ketentuan mengenai tahap atau batas waktu pembayaran dalam suatu transaksi. Istilah ini banyak dipakai dalam proyek konstruksi, pembelian barang, jasa profesional, hingga kerja sama antarbisnis.

Termin Adalah Ketentuan Pembayaran dalam Transaksi

Termin membantu para pihak memahami kapan pembayaran harus dilakukan dan berapa nilai yang perlu dibayarkan. Ketentuannya dapat mengikuti waktu tertentu atau kemajuan pekerjaan. Karena itu, termin sebaiknya selalu ditulis jelas dalam perjanjian.

Dalam praktiknya, termin juga berkaitan dengan dokumen seperti kontrak, invoice, berita acara pekerjaan, dan bukti penerimaan barang. Dokumen tersebut menjadi dasar saat salah satu pihak mengajukan tagihan atau memeriksa kewajiban pembayaran.

Menurut Subekti dalam buku Hukum Perjanjian, perjanjian terjadi ketika seseorang berjanji kepada orang lain atau ketika dua pihak saling berjanji untuk melakukan sesuatu.

Termin berdasarkan waktu

Termin berdasarkan waktu menetapkan tenggat pembayaran setelah barang atau jasa diterima. Contohnya, pembayaran dengan ketentuan 30 hari setelah invoice diterbitkan.

Model ini umum dipakai dalam transaksi pemasok dan toko, terutama ketika pembeli membutuhkan waktu untuk menjual kembali barang yang dibeli. Penjual perlu memastikan batas waktu tersebut tercantum secara tegas.

Termin berdasarkan progres pekerjaan

Termin progres mengikuti capaian pekerjaan yang telah diperiksa dan diterima. Misalnya, pembayaran dilakukan setelah pekerjaan mencapai tahap awal, tahap menengah, lalu selesai seluruhnya.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2020 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang Undang Jasa Konstruksi, pembayaran pekerjaan konstruksi dapat dilakukan secara bulanan, berdasarkan tahapan penyelesaian pekerjaan, atau sekaligus setelah pekerjaan selesai.

Jenis Termin Pembayaran yang Perlu Dipahami

Setiap transaksi membutuhkan bentuk termin yang berbeda. Nilainya bergantung pada jenis pekerjaan, lama pengerjaan, kemampuan arus kas, dan tingkat risiko yang ditanggung para pihak. Kesepakatan yang rinci akan mengurangi salah paham di kemudian hari.

Termin dapat disusun sederhana untuk transaksi kecil atau lebih terperinci untuk proyek bernilai besar. Pihak yang terlibat perlu menyetujui jadwal pembayaran sebelum pekerjaan berjalan.

Berikut beberapa bentuk termin yang sering digunakan dalam kegiatan usaha.

Termin bertahap

Termin bertahap membagi total pembayaran ke beberapa bagian. Contohnya, perusahaan membayar sebagian saat kontrak dimulai, sebagian setelah pekerjaan mencapai target, dan sisanya setelah serah terima.

Skema ini membantu penyedia jasa menjaga biaya operasional selama pekerjaan berlangsung. Pembeli juga dapat memantau hasil kerja sebelum membayar tahap berikutnya.

Termin sekaligus

Termin sekaligus berarti pembayaran dilakukan satu kali sesuai waktu yang disepakati. Skema ini cocok untuk pembelian barang yang telah tersedia atau pekerjaan dengan durasi singkat.

Pembayaran dapat dilakukan sebelum barang dikirim, saat barang diterima, atau setelah pekerjaan selesai. Waktu pembayaran harus dicantumkan secara spesifik agar tidak menimbulkan perbedaan penafsiran.

Perbedaan termin, uang muka, dan cicilan

Uang muka adalah pembayaran awal sebelum barang diterima atau pekerjaan selesai. Sementara itu, termin mengatur tahapan pembayaran sesuai waktu atau hasil pekerjaan yang telah dicapai.

Cicilan biasanya mengacu pada pelunasan utang secara berkala dalam jumlah tertentu. Termin dapat memuat uang muka, tetapi keduanya tetap memiliki fungsi yang berbeda dalam transaksi.

Menyusun Termin yang Aman dalam Perjanjian

Termin yang aman harus mudah dipahami oleh kedua pihak. Jumlah pembayaran, tanggal tagihan, cara verifikasi pekerjaan, dan konsekuensi keterlambatan perlu ditulis secara rinci. Kesepakatan lisan berisiko memicu sengketa karena sulit dibuktikan.

Pelaku usaha juga perlu menyesuaikan termin dengan kemampuan keuangan masing masing. Jangan menetapkan tenggat yang terlalu singkat jika pembeli memiliki proses pemeriksaan barang atau administrasi internal.

Menurut Kitab Undang Undang Hukum Perdata Pasal 1338, perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang undang bagi pihak yang membuatnya.

Tulis nilai dan jadwal pembayaran

Kontrak perlu mencantumkan nilai setiap tahap pembayaran beserta tanggal atau syarat pencapaiannya. Hindari kalimat yang terlalu umum, seperti pembayaran dilakukan setelah pekerjaan berjalan baik.

Gunakan ukuran yang dapat diperiksa, misalnya setelah barang diterima atau setelah pekerjaan mencapai persentase tertentu. Cara ini memudahkan kedua pihak saat mengecek tagihan.

Tentukan bukti pencapaian pekerjaan

Untuk proyek jasa, tentukan dokumen yang menjadi bukti pekerjaan telah selesai pada setiap tahap. Bukti tersebut dapat berupa berita acara, laporan pekerjaan, atau persetujuan tertulis dari pelanggan.

Dokumen ini melindungi penyedia jasa saat menagih pembayaran. Di sisi lain, pelanggan memiliki dasar untuk menilai apakah hasil pekerjaan sudah sesuai kesepakatan.

Atur konsekuensi keterlambatan

Perjanjian sebaiknya menjelaskan langkah yang diambil jika pembayaran melewati batas waktu. Para pihak dapat menyepakati pengingat tertulis, denda, penghentian sementara pekerjaan, atau penyelesaian sengketa.

Dengan ketentuan yang jelas, termin adalah alat untuk menjaga arus kas sekaligus membangun hubungan bisnis yang lebih tertib.