Keuangan & Gaya Hidup

Transaksi Adalah Catatan Keuangan yang Menggerakkan Bisnis

09 Oct 2026 • 4 min read

Ditulis oleh Tim Blog Amartha
Transaksi Adalah Catatan Keuangan yang Menggerakkan Bisnis

Setiap uang masuk, pembayaran tagihan, pembelian barang, hingga penerimaan pinjaman perlu dicatat agar kondisi keuangan usaha mudah dipantau. Catatan ini membantu pemilik usaha mengetahui asal dana, penggunaan dana, serta kewajiban yang harus dibayar. Dalam akuntansi, aktivitas tersebut dikenal sebagai transaksi.

Transaksi adalah kejadian yang dapat diukur dengan uang dan menimbulkan perubahan pada kondisi keuangan perusahaan. Kejadian ini perlu memiliki bukti, misalnya nota, faktur, kuitansi, atau bukti transfer. Tanpa bukti yang jelas, pencatatan berisiko keliru.

Pengertian Transaksi Adalah dalam Akuntansi

Dalam penggunaan sehari hari, transaksi sering diartikan sebagai kegiatan jual beli. Pengertian dalam akuntansi lebih luas karena mencakup seluruh peristiwa yang memengaruhi harta, utang, modal, pendapatan, atau beban usaha. Karena itu, membayar gaji karyawan juga termasuk transaksi.

Setiap transaksi dicatat berdasarkan nilai uang yang dapat diukur. Peristiwa yang belum berdampak pada keuangan, seperti rencana membeli mesin bulan depan, belum dapat dicatat sebagai transaksi. Pencatatan baru dilakukan saat perusahaan benar benar melakukan pembelian atau memiliki kewajiban pembayaran.

Menurut Mitchell Franklin dan rekan penulis dalam buku Principles of Accounting Volume 1 Financial Accounting, transaksi bisnis merupakan kegiatan yang memiliki dampak langsung terhadap posisi keuangan perusahaan.

Ciri Transaksi yang Perlu Dicatat

Transaksi biasanya memiliki tanggal kejadian, nilai nominal, pihak yang terlibat, serta dokumen pendukung. Misalnya, toko membeli stok minuman senilai Rp500.000 dan menerima faktur dari pemasok. Faktur tersebut menjadi bukti bahwa nilai persediaan bertambah dan kas atau utang usaha berubah.

Bukti transaksi perlu disimpan dengan rapi karena berguna saat usaha menyusun laporan keuangan atau menghadapi pemeriksaan pajak. Dokumen digital, seperti bukti transfer dan invoice elektronik, juga dapat digunakan selama informasinya lengkap.

Pengaruhnya terhadap Posisi Keuangan

Transaksi dapat menambah atau mengurangi aset, yaitu sumber daya yang dimiliki usaha seperti kas, persediaan, dan peralatan. Transaksi juga bisa menimbulkan utang, misalnya ketika perusahaan membeli barang secara kredit. Utang adalah kewajiban yang harus dibayar kepada pihak lain.

Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan dari Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia menjelaskan bahwa informasi keuangan perlu menggambarkan sumber daya ekonomi dan klaim perusahaan secara relevan. Pencatatan transaksi yang tepat membantu laporan keuangan menyajikan kondisi usaha secara lebih andal.

Jenis Transaksi dalam Kegiatan Usaha

Secara umum, transaksi dibagi menjadi transaksi internal dan eksternal. Pembagian ini memudahkan perusahaan memahami apakah suatu kejadian melibatkan pihak di luar usaha atau terjadi di dalam perusahaan. Keduanya tetap perlu dicatat apabila mengubah nilai keuangan perusahaan.

Selain itu, transaksi dapat berlangsung secara tunai maupun kredit. Transaksi tunai terjadi saat pembayaran dilakukan langsung. Sementara itu, transaksi kredit menimbulkan piutang atau utang yang diselesaikan pada waktu berikutnya.

Memahami jenis transaksi membantu pelaku usaha menentukan akun yang tepat saat membuat jurnal. Jurnal merupakan catatan awal yang memuat transaksi secara urut berdasarkan tanggal kejadian.

Transaksi Internal

Transaksi internal terjadi di dalam perusahaan tanpa melibatkan pihak luar secara langsung. Contohnya, pemakaian perlengkapan kantor, penyusutan peralatan, atau pencatatan beban gaji yang sudah menjadi kewajiban perusahaan.

Penyusutan berarti pengalokasian biaya aset tetap selama masa penggunaannya. Sebagai contoh, komputer yang digunakan untuk operasional tidak langsung habis nilainya dalam satu hari, sehingga biayanya dicatat bertahap.

Transaksi Eksternal

Transaksi eksternal melibatkan perusahaan dan pihak lain, seperti pelanggan, pemasok, bank, atau pemerintah. Contoh yang paling sering terjadi adalah penjualan barang kepada pelanggan, pembelian bahan baku, pembayaran listrik, dan penerimaan pinjaman bank.

Menurut Jerry J. Weygandt, Paul D. Kimmel, dan Donald E. Kieso dalam buku Accounting Principles, perusahaan menggunakan dokumen sumber untuk mendukung pencatatan transaksi. Dokumen tersebut membantu pencatatan berlangsung konsisten dan dapat ditelusuri kembali.

Cara Menghindari Kesalahan Pencatatan Transaksi

Kesalahan pencatatan dapat membuat saldo kas terlihat berbeda dengan kondisi sebenarnya. Dampaknya, pemilik usaha bisa salah mengambil keputusan saat membeli stok atau membayar kewajiban. Masalah ini dapat dikurangi dengan kebiasaan administrasi yang sederhana dan rutin.

Pencatatan tidak perlu menunggu sampai akhir bulan. Usaha kecil dapat mencatat transaksi setiap hari melalui buku kas, spreadsheet, atau aplikasi akuntansi. Langkah ini membuat dokumen lebih mudah dicocokkan dengan catatan keuangan.

Dengan pencatatan yang tertib, transaksi adalah informasi yang membantu usaha melihat arah keuangannya secara nyata.

Simpan Bukti Setiap Transaksi

Simpan nota penjualan, kuitansi pembelian, faktur, dan bukti transfer dalam satu tempat. Beri nama file atau kelompokkan dokumen berdasarkan tanggal agar mudah dicari saat diperlukan.

Periksa Catatan Kas Secara Berkala

Cocokkan jumlah kas di catatan dengan uang tunai dan saldo rekening bank. Jika ada selisih, telusuri segera apakah terdapat transaksi yang belum dicatat, salah nominal, atau bukti pembayaran yang belum terkumpul.