
Omset menunjukkan total uang dari penjualan barang atau jasa dalam periode tertentu. Angka ini membantu pemilik usaha melihat seberapa besar transaksi yang terjadi setiap hari, minggu, atau bulan.
Namun, omset tidak sama dengan laba. Biaya bahan baku, gaji, ongkir, sewa, dan pengeluaran lain belum dikurangi dari angka omset. Karena itu, cara menghitung omset perlu dilakukan secara konsisten agar kondisi usaha lebih mudah dipantau.
Cara Menghitung Omset dari Seluruh Penjualan
Rumus dasar omset cukup sederhana, yaitu jumlah produk terjual dikalikan harga jual per produk. Jika usaha menjual beberapa jenis barang, hitung penjualan setiap produk lalu jumlahkan hasilnya.
Perhitungan ini bisa dilakukan harian agar pemilik usaha tidak perlu mengumpulkan banyak nota di akhir bulan. Catatan penjualan dari kasir, marketplace, dan pesanan melalui chat sebaiknya digabungkan.
Omset dapat dihitung dalam berbagai periode sesuai kebutuhan usaha. Usaha kecil biasanya memakai catatan harian dan bulanan, sedangkan usaha dengan transaksi ramai dapat memantau angka per minggu.
Catat Semua Transaksi yang Sudah Terjadi
Masukkan transaksi yang benar-benar sudah dibayar atau tercatat sebagai penjualan. Pisahkan pesanan yang masih menunggu pembayaran agar angka omset tidak lebih besar dari transaksi nyata.
Catatan sederhana dapat memuat tanggal, nama produk, jumlah barang, harga satuan, dan total pembayaran. Cara ini juga memudahkan pemilik usaha saat memeriksa selisih uang kas.
Gunakan Rumus Sesuai Jenis Penjualan
Untuk satu produk, rumusnya adalah jumlah unit terjual dikalikan harga jual. Misalnya, kedai kopi menjual 40 gelas kopi susu seharga Rp18.000 dalam sehari. Omset dari produk tersebut mencapai Rp720.000.
Jika kedai juga menjual makanan ringan, hasil penjualan makanan perlu ditambahkan ke penjualan kopi. Dengan begitu, angka yang diperoleh menggambarkan seluruh pemasukan penjualan sebelum biaya dikurangi.
Ikuti Lima Langkah Perhitungan Ini
Langkah berikut cocok diterapkan pada toko kelontong, usaha makanan, jasa kecantikan, hingga penjual online. Simpan bukti transaksi agar hasil hitung dapat dicek kembali.
- Catat jumlah barang atau jasa yang terjual.
- Tulis harga jual setiap produk atau layanan.
- Kalikan jumlah terjual dengan harga jual.
- Jumlahkan hasil penjualan dari semua produk.
- Kurangi transaksi batal, retur, atau pengembalian dana bila ada.
Bedakan Omset, Pendapatan, dan Laba Usaha
Istilah omset, pendapatan, dan laba sering dipakai bergantian dalam percakapan sehari-hari. Padahal, ketiganya dapat menunjukkan angka yang berbeda dalam pembukuan usaha.
Omset umumnya merujuk pada nilai penjualan kotor. Sementara itu, laba adalah sisa uang setelah usaha membayar seluruh biaya yang berkaitan dengan operasional.
Menurut Soemarso S R dalam buku Akuntansi Suatu Pengantar, laporan laba rugi menyajikan pendapatan dan beban selama satu periode untuk mengetahui hasil kegiatan usaha. Buku tersebut merupakan buku akuntansi.
Jangan Menganggap Omset sebagai Keuntungan
Usaha katering dengan omset Rp10 juta belum tentu menghasilkan laba Rp10 juta. Pemilik masih perlu membayar bahan makanan, gas, kemasan, ongkir, serta tenaga kerja.
Karena itu, catat biaya usaha di daftar terpisah. Setelah seluruh biaya dikurangi dari pendapatan, pemilik bisa melihat laba bersih yang lebih mendekati kondisi keuangan sebenarnya.
Pantau Omset untuk Kebutuhan Pajak dan Target Usaha
Catatan omset membantu pelaku usaha mengevaluasi produk yang paling banyak terjual dan menentukan target penjualan berikutnya. Data ini juga berguna saat usaha perlu membuat laporan keuangan atau mengurus pajak.
Menurut Pemerintah Republik Indonesia dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2022, wajib pajak dengan peredaran bruto tertentu memiliki batas peredaran bruto sampai Rp4,8 miliar dalam satu tahun pajak. Dokumen ini merupakan peraturan pemerintah yang menjadi rujukan perpajakan.
Dengan pencatatan rutin, cara menghitung omset akan terasa lebih mudah dan hasilnya dapat dipakai untuk mengambil keputusan usaha sehari-hari.











