Loading...
Loading...

Perubahan bunga kredit dapat memengaruhi cicilan rumah, kendaraan, hingga modal usaha. Di sisi lain, bunga simpanan menentukan imbal hasil yang diterima nasabah dari tabungan atau deposito. Karena itu, memahami cara kerja suku bunga membantu masyarakat mengambil keputusan keuangan dengan lebih cermat.
Suku bunga adalah istilah yang sering muncul saat seseorang menabung, meminjam uang, atau mengikuti berita ekonomi. Angkanya dapat berubah mengikuti kondisi ekonomi dan kebijakan Bank Indonesia. Dampaknya terasa langsung pada pengeluaran rumah tangga maupun rencana bisnis.
Suku bunga merupakan persentase biaya atas penggunaan uang dalam periode tertentu. Peminjam membayar bunga kepada bank atau lembaga keuangan, sedangkan penabung dapat menerima bunga atas dana yang disimpan. Besarannya biasanya dihitung per tahun, meski pembayarannya dapat dilakukan setiap bulan.
Bunga juga menjadi salah satu cara bank mengelola dana dari masyarakat. Bank menghimpun simpanan, lalu menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit. Selisih antara bunga simpanan dan bunga pinjaman menjadi salah satu sumber pendapatan bank.
Dalam kehidupan sehari hari, suku bunga terlihat pada cicilan KPR, kredit kendaraan, kartu kredit, dan deposito. Oleh karena itu, calon nasabah perlu membaca ketentuan bunga sebelum menandatangani perjanjian.
Menurut Kasmir dalam buku Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, bunga bank merupakan balas jasa yang diberikan bank berdasarkan prinsip konvensional. Nasabah yang meminjam dana membayar bunga, sementara penyimpan dana memperoleh bunga sesuai ketentuan produk.
Misalnya, kredit dengan bunga lebih tinggi akan membuat total cicilan meningkat. Kondisi ini perlu diperhitungkan bersama biaya administrasi, provisi, dan denda bila ada.
Bank menetapkan bunga dengan mempertimbangkan biaya dana, risiko kredit, biaya operasional, serta kondisi pasar. Risiko kredit berarti kemungkinan peminjam terlambat atau gagal membayar kewajibannya.
Bank juga melihat arah suku bunga acuan Bank Indonesia. Namun, bunga kredit setiap bank dapat berbeda karena strategi dan tingkat risiko nasabah tidak selalu sama.
Jenis bunga menentukan cara cicilan dihitung dan kemungkinan nilainya berubah. Perbedaan ini sering membuat biaya kredit terasa membingungkan bagi nasabah. Memahami metodenya sejak awal dapat membantu membandingkan penawaran dari beberapa bank.
Produk kredit jangka panjang umumnya memiliki aturan bunga yang lebih rinci. Nasabah perlu memastikan apakah bunga berlaku tetap sepanjang tenor atau dapat berubah. Tenor adalah jangka waktu pelunasan kredit.
Selain itu, metode perhitungan bunga memengaruhi jumlah angsuran tiap bulan. Informasi tersebut biasanya tercantum dalam ringkasan fasilitas kredit.
Suku bunga tetap atau fixed membuat persentase bunga tidak berubah selama periode yang disepakati. Skema ini memudahkan nasabah memperkirakan pengeluaran bulanan.
Meski begitu, bunga tetap sering berlaku untuk masa tertentu, misalnya pada awal kredit rumah. Setelah periode tersebut berakhir, bank dapat menerapkan bunga mengambang sesuai perjanjian.
Suku bunga mengambang atau floating dapat naik dan turun mengikuti kondisi pasar serta kebijakan bank. Ketika bunga naik, cicilan dapat bertambah atau jangka waktu kredit menjadi lebih panjang.
Skema ini perlu diperhatikan terutama oleh peminjam KPR. Nasabah sebaiknya meminta simulasi cicilan untuk beberapa kemungkinan perubahan bunga.
Bunga flat menghitung bunga dari nilai pinjaman awal sehingga nominal bunganya cenderung tetap setiap bulan. Metode ini kerap digunakan pada kredit kendaraan atau pinjaman konsumtif.
Bunga efektif dihitung dari sisa pokok utang. Pada awal masa kredit, porsi bunga biasanya lebih besar karena sisa utang masih tinggi, lalu berkurang seiring cicilan pokok dibayar.
Suku bunga memengaruhi keputusan masyarakat untuk meminjam, menyimpan uang, atau berinvestasi. Bunga kredit yang tinggi dapat membuat orang menunda pembelian rumah dan ekspansi usaha. Sebaliknya, bunga yang lebih rendah dapat mendorong permintaan pembiayaan.
Bank Indonesia memakai suku bunga kebijakan untuk menjaga stabilitas harga dan nilai rupiah. Kebijakan ini kemudian memengaruhi bunga di pasar uang, deposito, dan kredit secara bertahap. Proses penyaluran pengaruh tersebut disebut transmisi kebijakan moneter.
Menurut Perry Warjiyo dan Solikin dalam buku Kebijakan Moneter di Indonesia, jalur suku bunga menjadi salah satu mekanisme transmisi kebijakan moneter ke kegiatan ekonomi. Artinya, perubahan bunga acuan dapat memengaruhi konsumsi, investasi, dan inflasi.
Bank Indonesia menggunakan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebagai suku bunga kebijakan sejak 19 Agustus 2016. Instrumen ini dipakai karena lebih dekat dengan transaksi pasar uang dan diharapkan mempercepat transmisi kebijakan.
Bank Indonesia kemudian mengganti nama BI 7 Day Reverse Repo Rate menjadi BI Rate pada 21 Desember 2023. Perubahan nama ini tidak mengubah fungsi BI Rate sebagai sinyal arah kebijakan moneter. Sumber Bank Indonesia.
Menurut Aulia Pohan dalam buku Potret Kebijakan Moneter Indonesia, kebijakan moneter digunakan untuk memengaruhi jumlah uang beredar dan menjaga kestabilan ekonomi. Kenaikan suku bunga dapat menahan permintaan ketika tekanan inflasi meningkat.
Namun, bunga yang terlalu tinggi juga dapat membuat kredit lebih mahal bagi rumah tangga dan pelaku usaha. Karena itu, suku bunga adalah salah satu indikator yang layak dipantau sebelum mengambil pinjaman atau menempatkan dana dalam simpanan.