Keuangan & Gaya Hidup

Suku Bunga Acuan BI dan Pengaruhnya pada Kredit

21 Oct 2026 • 5 min read

Ditulis oleh Tim Blog Amartha
Suku Bunga Acuan BI dan Pengaruhnya pada Kredit

Perubahan bunga pinjaman, cicilan rumah, hingga imbal hasil deposito sering berawal dari keputusan Bank Indonesia. Bank sentral menggunakan suku bunga acuan untuk menjaga inflasi dan nilai rupiah tetap stabil. Karena itu, keputusan bunga BI dapat memengaruhi pengeluaran rumah tangga serta rencana bisnis.

Suku bunga acuan BI saat ini dikenal sebagai BI Rate. Angka ini menjadi sinyal arah kebijakan moneter Bank Indonesia bagi perbankan, pelaku usaha, dan masyarakat. Besarannya dapat berubah sesuai kondisi ekonomi dalam dan luar negeri.

Apa Itu Suku Bunga Acuan BI

Suku bunga acuan BI adalah tingkat bunga kebijakan yang ditetapkan Bank Indonesia melalui rapat Dewan Gubernur. Kebijakan ini digunakan untuk memengaruhi suku bunga di pasar uang dan, secara bertahap, bunga produk perbankan. Dampaknya tidak selalu terasa pada hari yang sama karena bank perlu menyesuaikan biaya dana dan strategi kreditnya.

Bank Indonesia memiliki tujuan utama mencapai serta memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan tersebut mencakup harga barang dan jasa melalui pengendalian inflasi, sekaligus nilai tukar rupiah terhadap mata uang lain.

Menurut Undang Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, Bank Indonesia menjalankan kebijakan moneter untuk mencapai dan memelihara stabilitas nilai rupiah. Sumber: Pemerintah Republik Indonesia.

Fungsi BI Rate bagi ekonomi

Ketika inflasi berisiko naik terlalu cepat, Bank Indonesia dapat menaikkan BI Rate. Langkah ini bertujuan menahan permintaan berlebihan karena biaya pinjaman berpotensi menjadi lebih mahal.

Di sisi lain, penurunan BI Rate dapat memberi ruang bagi bunga kredit untuk turun. Kondisi tersebut diharapkan mendukung konsumsi dan investasi, selama bank memiliki likuiditas atau dana yang cukup untuk disalurkan.

Perbedaan BI Rate dan bunga kredit

BI Rate bukan bunga yang langsung dibayar peminjam kepada bank. Bunga kredit ditentukan masing-masing bank dengan mempertimbangkan biaya dana, risiko nasabah, jenis pinjaman, dan persaingan pasar.

Artinya, saat BI Rate turun, bunga kredit kendaraan atau rumah belum tentu langsung ikut turun. Nasabah tetap perlu membandingkan penawaran bank, termasuk biaya provisi, administrasi, dan denda pelunasan.

Perubahan dari BI Rate ke BI 7 Day Reverse Repo Rate

Bank Indonesia pernah menggunakan BI Rate sebagai suku bunga kebijakan utama. Pada 19 Agustus 2016, instrumen tersebut digantikan oleh BI 7 Day Reverse Repo Rate. Perubahan ini dirancang agar sinyal kebijakan moneter lebih cepat tersalurkan ke pasar keuangan.

Reverse repo adalah transaksi ketika Bank Indonesia membeli surat berharga dari bank dengan kesepakatan menjualnya kembali pada waktu tertentu. Jangka waktu tujuh hari membuat instrumen ini lebih dekat dengan transaksi pasar uang jangka pendek.

Menurut Bank Indonesia dalam publikasi Penguatan Kerangka Operasi Moneter, BI 7 Day Reverse Repo Rate digunakan sebagai suku bunga kebijakan baru sejak 19 Agustus 2016. Sumber: Bank Indonesia.

Mengapa instrumen ini digunakan

Instrumen tujuh hari membantu Bank Indonesia mengelola likuiditas perbankan dengan lebih responsif. Likuiditas berarti ketersediaan dana yang mudah digunakan bank untuk memenuhi kebutuhan transaksi dan penyaluran kredit.

Perubahan instrumen ini juga membantu pelaku pasar membaca arah kebijakan secara lebih jelas. Meski begitu, penyesuaian bunga deposito dan kredit tetap bergantung pada kebijakan tiap bank.

Faktor yang dipertimbangkan Bank Indonesia

Bank Indonesia menilai proyeksi inflasi, pertumbuhan ekonomi, stabilitas rupiah, serta kondisi ekonomi global sebelum mengambil keputusan. Kenaikan suku bunga bank sentral negara besar juga dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar rupiah.

Keputusan tersebut diumumkan secara berkala setelah Rapat Dewan Gubernur. Masyarakat dapat memantau pengumuman resminya melalui kanal Bank Indonesia agar tidak bergantung pada informasi yang keliru.

Dampak Suku Bunga Acuan BI bagi Masyarakat

Dampak suku bunga acuan BI paling mudah terlihat pada biaya pinjaman dan hasil simpanan. Namun, pengaruhnya berbeda pada setiap orang karena jenis kredit, tenor, dan aturan bunga tiap bank tidak sama. Pelaku usaha juga memperhatikan perubahan ini saat menghitung biaya modal.

Kenaikan bunga dapat membuat cicilan kredit dengan bunga mengambang meningkat. Bunga mengambang adalah bunga yang dapat berubah mengikuti ketentuan bank dan kondisi pasar. Sebaliknya, pemegang deposito berpeluang memperoleh imbal hasil lebih tinggi saat bank menaikkan bunga simpanan.

Menurut Bank Indonesia dalam Laporan Kebijakan Moneter, kebijakan suku bunga menjadi salah satu instrumen untuk mengarahkan inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan. Sumber: Bank Indonesia.

Pengaruh pada kredit dan cicilan

Pemilik kredit pemilikan rumah dengan bunga mengambang perlu mencermati pemberitahuan dari bank saat suku bunga berubah. Kenaikan cicilan dapat memengaruhi anggaran bulanan, terutama untuk pinjaman dengan sisa tenor panjang.

Sebelum mengajukan kredit, calon nasabah sebaiknya menanyakan jenis bunga yang digunakan. Bunga tetap memberi kepastian cicilan dalam periode tertentu, sedangkan bunga mengambang dapat berubah selama masa kredit.

Pengaruh pada tabungan dan investasi

Bunga deposito biasanya menjadi lebih menarik saat tingkat bunga pasar naik. Namun, masyarakat tetap perlu mempertimbangkan tujuan keuangan, kebutuhan dana darurat, dan risiko produk investasi sebelum memindahkan dana.

Memahami suku bunga acuan BI membantu masyarakat membaca perubahan ekonomi tanpa terburu-buru mengambil keputusan. Informasi terbaru sebaiknya selalu dicek melalui pengumuman resmi Bank Indonesia dan penjelasan dari bank terkait.