
Setiap penjualan barang atau jasa menghasilkan uang yang dicatat perusahaan. Nilai tersebut membantu pemilik usaha melihat seberapa besar aktivitas bisnis berjalan dalam satu periode. Dalam laporan keuangan, penerimaan ini dikenal sebagai revenue.
Revenue adalah pendapatan yang diperoleh perusahaan dari kegiatan bisnisnya, misalnya menjual produk, memberi jasa, menerima komisi, atau menyewakan aset. Angka revenue belum menunjukkan keuntungan karena masih ada biaya yang harus dibayar perusahaan.
Pengertian Revenue dalam Akuntansi
Revenue sering diterjemahkan sebagai pendapatan atau penghasilan usaha. Istilah ini muncul dalam laporan laba rugi, biasanya pada bagian paling atas sebelum beban dan biaya dikurangi. Karena itu, revenue kerap dipakai sebagai ukuran awal untuk membaca skala penjualan sebuah bisnis.
Nilai revenue dapat berasal dari transaksi tunai maupun transaksi kredit. Artinya, perusahaan bisa mencatat pendapatan saat telah memenuhi kewajiban kepada pelanggan, meski pembayaran belum diterima seluruhnya. Aturan pencatatannya perlu mengikuti standar akuntansi agar laporan tidak menyesatkan.
Namun jangan salah, uang yang masuk ke rekening tidak selalu dapat langsung disebut revenue. Setoran modal dari pemilik atau pinjaman bank menambah kas, tetapi bukan pendapatan hasil penjualan.
Definisi Revenue Menurut Standar Akuntansi
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam PSAK 72 Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan, pendapatan diakui ketika pengendalian atas barang atau jasa dialihkan kepada pelanggan. Jumlahnya mengikuti imbalan yang diperkirakan menjadi hak perusahaan dari kontrak tersebut.
Misalnya, toko furnitur menjual meja seharga Rp2 juta dan menyerahkannya kepada pembeli. Toko dapat mencatat revenue dari penjualan itu sesuai ketentuan transaksi yang berlaku.
Revenue Berasal dari Kegiatan Utama Usaha
Pada perusahaan dagang, revenue umumnya berasal dari penjualan barang. Sementara itu, usaha jasa memperoleh revenue dari layanan yang diberikan, seperti jasa desain, perawatan kendaraan, atau konsultasi.
Perusahaan juga dapat memiliki penghasilan lain, seperti bunga deposito atau keuntungan menjual aset. Dalam praktik pelaporan, pos tersebut biasanya dipisahkan dari pendapatan utama agar pembaca laporan dapat menilai sumber kinerja perusahaan dengan lebih jelas.
Jenis Revenue dan Bedanya dengan Profit
Revenue dapat dibedakan berdasarkan sumber transaksinya. Pembagian ini memudahkan perusahaan menilai layanan atau produk mana yang paling banyak menghasilkan pendapatan. Informasi tersebut juga berguna saat manajemen menyusun target penjualan berikutnya.
Di sisi lain, revenue sering tertukar dengan income dan profit. Ketiganya berkaitan dengan hasil keuangan perusahaan, tetapi maknanya tidak selalu sama. Memahami perbedaannya membantu pemilik usaha menghindari kesimpulan keliru saat melihat angka penjualan.
Dalam penggunaan sehari-hari, income sering dipakai untuk menyebut penghasilan secara umum. Sementara itu, profit berarti laba setelah perusahaan mengurangi biaya dari pendapatannya.
Revenue Operasional dan Penghasilan Lain
Revenue operasional berasal dari aktivitas inti perusahaan. Contohnya, pendapatan penjualan pakaian pada toko busana atau pendapatan langganan pada aplikasi digital.
Penghasilan lain berasal dari transaksi di luar kegiatan utama, seperti pendapatan bunga. Pemisahan ini membuat laporan laba rugi lebih mudah dibaca karena penjualan utama tidak tercampur dengan transaksi insidental.
Perbedaan Revenue, Income, dan Profit
Revenue adalah nilai penjualan sebelum dikurangi biaya. Income dapat bermakna penghasilan secara lebih luas, tergantung konteks laporan yang digunakan. Profit adalah sisa pendapatan setelah dikurangi harga pokok, gaji, sewa, pajak, dan beban lain.
Menurut Donald E. Kieso dalam buku Intermediate Accounting, pendapatan berkaitan dengan arus masuk aset atau peningkatan aset dari aktivitas utama perusahaan. Karena itu, revenue tinggi belum tentu menghasilkan profit tinggi apabila biaya operasional ikut membengkak.
Cara Menghitung Revenue pada Perusahaan
Perhitungan revenue perlu disesuaikan dengan model bisnis perusahaan. Usaha yang menjual produk fisik biasanya menghitung dari jumlah unit terjual, sedangkan bisnis jasa menghitung nilai layanan yang sudah diberikan. Perusahaan juga perlu memperhitungkan potongan harga dan retur penjualan.
Rumus paling sederhana adalah jumlah barang atau jasa yang terjual dikalikan harga jual per unit. Rumus ini memberi gambaran pendapatan kotor sebelum biaya dikurangi. Catatan transaksi yang rapi akan membuat perhitungan lebih akurat.
Berikut langkah praktis untuk menghitungnya dalam bisnis kecil maupun besar.
- Tentukan produk atau jasa yang sudah berhasil dijual dalam satu periode.
- Catat jumlah unit yang terjual atau nilai jasa yang telah selesai diberikan.
- Kalikan jumlah penjualan dengan harga jual yang disepakati pelanggan.
- Kurangi diskon, retur, atau pembatalan transaksi bila ada.
- Pisahkan pendapatan utama dari bunga, sewa, dan penghasilan lain.
Contoh Perhitungan Sederhana
Sebuah kedai kopi menjual 1.000 gelas minuman dengan harga rata-rata Rp20.000 dalam satu bulan. Revenue kotornya adalah Rp20 juta sebelum dikurangi bahan baku, gaji pegawai, sewa tempat, dan biaya listrik.
Apabila kedai memberi pengembalian dana sebesar Rp500 ribu karena pesanan bermasalah, pendapatan penjualannya menjadi Rp19,5 juta. Angka tersebut belum dapat disebut laba bersih.
Revenue dalam Laporan Laba Rugi
Revenue biasanya dicantumkan pada bagian awal laporan laba rugi. Setelah itu, perusahaan mengurangi pendapatan dengan harga pokok penjualan dan berbagai beban untuk mendapatkan laba.
Revenue adalah angka yang membantu pemilik bisnis, investor, kreditur, dan manajemen membaca kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan. Namun, penilaian kesehatan keuangan tetap perlu melihat arus kas, utang, biaya, serta laba bersih.











