Loading...
Loading...

Uang yang masuk dari seluruh penjualan menjadi angka pertama yang perlu dipantau pemilik usaha. Dari angka tersebut, pelaku usaha bisa melihat apakah produk diminati, promosi berjalan efektif, dan target penjualan tercapai. Omset UMKM juga membantu pemilik usaha menentukan langkah bisnis berikutnya.
Namun, omset yang tinggi belum tentu berarti usaha menghasilkan keuntungan besar. Biaya bahan baku, gaji pegawai, ongkir, sewa tempat, dan promosi tetap perlu dihitung secara rutin. Karena itu, pencatatan sederhana menjadi kebiasaan yang sangat berguna sejak usaha masih kecil.
Omset UMKM adalah total nilai penjualan barang atau jasa dalam periode tertentu, misalnya harian, bulanan, atau tahunan. Angka ini dihitung sebelum biaya operasional dikurangi. Pemilik usaha dapat memakai omset untuk mengukur perkembangan penjualan dari waktu ke waktu.
Usaha mikro, kecil, dan menengah memiliki pengelompokan tertentu dalam aturan Indonesia. Menurut Pemerintah Indonesia dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Pelindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, kriteria UMKM dapat dilihat dari modal usaha atau hasil penjualan tahunan.
Memahami angka penjualan akan membuat keputusan usaha lebih terarah. Misalnya, pemilik kedai kopi dapat membandingkan omset akhir pekan dengan hari kerja untuk menentukan jumlah stok yang perlu disiapkan.
Omset merupakan seluruh pendapatan dari transaksi penjualan. Laba adalah uang yang tersisa setelah omset dikurangi seluruh biaya usaha. Jika toko memperoleh penjualan Rp10 juta dengan total biaya Rp7 juta, laba usahanya adalah Rp3 juta.
Catatan harian membantu pemilik UMKM mengetahui produk yang paling cepat terjual. Data ini juga memudahkan pelaku usaha saat menghitung kebutuhan stok dan modal belanja. Pisahkan pula uang usaha dari uang pribadi agar laporan keuangan tidak bercampur.
Naik turunnya omset UMKM dipengaruhi banyak hal, dari mutu produk hingga cara usaha menjangkau pembeli. Harga murah saja tidak selalu membuat pelanggan kembali. Pengalaman pelanggan saat membeli juga memengaruhi keputusan mereka untuk melakukan pembelian ulang.
Perubahan kebiasaan belanja ikut membuka peluang baru bagi usaha kecil. Menurut Badan Pusat Statistik dalam publikasi Statistik E Commerce 2023, pelaku usaha menggunakan internet antara lain untuk komunikasi dengan pelanggan serta menerima pesanan. Kanal digital dapat memperluas jangkauan penjualan tanpa harus membuka cabang.
Di sisi lain, promosi digital perlu diimbangi dengan kesiapan produksi. Jangan sampai pesanan meningkat, tetapi kualitas produk dan waktu pengiriman justru menurun.
Produk perlu memiliki rasa, ukuran, atau mutu yang konsisten. Pelanggan juga mengingat respons penjual saat mereka bertanya, mengajukan komplain, atau meminta informasi pengiriman. Balas pesan dengan jelas dan sesuai jam operasional yang telah ditentukan.
Pilih kanal promosi berdasarkan kebiasaan calon pembeli. Penjual makanan rumahan dapat mengandalkan WhatsApp, media sosial, dan layanan pesan antar di area terdekat. Sementara itu, produk kerajinan dapat memakai katalog foto yang rapi untuk menjangkau pembeli dari kota lain.
Peningkatan omset tidak harus dimulai dengan modal besar. Pelaku UMKM dapat memperbaiki proses penjualan yang sudah berjalan dan menguji strategi dalam skala kecil. Hasil setiap langkah perlu dicatat agar pemilik usaha tahu cara mana yang paling efektif.
Target penjualan yang realistis juga membuat usaha lebih mudah dikendalikan. Tentukan target berdasarkan data transaksi sebelumnya, bukan sekadar perkiraan. Setelah itu, evaluasi hasilnya setiap minggu atau setiap bulan.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mendorong omset UMKM.
Pelaku usaha dapat mengikuti pelatihan pemasaran, pengemasan, pembukuan, atau sertifikasi produk yang tersedia dari pemerintah daerah dan lembaga pendamping UMKM. Kementerian Koperasi dan UKM juga menjalankan program pengembangan kapasitas bagi pelaku usaha melalui berbagai layanan dan kemitraan.
Buat daftar berisi total penjualan, produk terlaris, jumlah pesanan, biaya promosi, dan keluhan pelanggan. Dari data tersebut, pemilik usaha dapat memutuskan produk yang perlu ditambah, diperbaiki, atau dihentikan. Evaluasi rutin menjaga omset UMKM tumbuh dengan langkah yang lebih terukur.