Keuangan & Gaya Hidup

Suku Bunga BI Rate dan Pengaruhnya bagi Keuangan

21 Oct 2026 • 5 min read

Ditulis oleh Tim Blog Amartha
Suku Bunga BI Rate dan Pengaruhnya bagi Keuangan

Perubahan bunga pinjaman, cicilan rumah, hingga nilai tukar rupiah sering berkaitan dengan keputusan Bank Indonesia. Salah satu istilah yang kerap muncul dalam pemberitaan ekonomi adalah suku bunga BI Rate. Saat ini, istilah tersebut umumnya merujuk pada suku bunga kebijakan Bank Indonesia yang bernama BI 7-Day Reverse Repo Rate.

Suku bunga acuan membantu Bank Indonesia mengarahkan kondisi likuiditas, inflasi, dan stabilitas nilai rupiah. Dampaknya memang tidak selalu terasa seketika di rekening masyarakat, tetapi arah kebijakan ini dapat memengaruhi biaya kredit dan imbal hasil simpanan.

Apa Itu Suku Bunga BI Rate

Suku bunga BI Rate adalah tingkat bunga yang digunakan Bank Indonesia untuk memberi sinyal arah kebijakan moneter. Kebijakan moneter merupakan langkah bank sentral untuk menjaga kestabilan harga dan nilai mata uang. Dalam praktiknya, Bank Indonesia kini menggunakan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebagai suku bunga kebijakan utama.

Istilah BI Rate masih sering dipakai dalam percakapan sehari-hari karena sudah dikenal luas sejak lama. Namun, pembaca perlu membedakannya dengan bunga deposito, bunga kredit, atau bunga kartu kredit yang ditetapkan masing-masing bank.

Tujuan akhirnya adalah menjaga daya beli masyarakat melalui inflasi yang terkendali serta rupiah yang stabil. Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.

Peran sebagai arah kebijakan moneter

Ketika inflasi berisiko meningkat, Bank Indonesia dapat menaikkan suku bunga acuan. Langkah ini biasanya bertujuan menahan pertumbuhan permintaan dan menjaga minat investor terhadap aset rupiah.

Di sisi lain, penurunan bunga acuan dapat memberi ruang bagi kredit yang lebih terjangkau. Kondisi tersebut diharapkan mendorong konsumsi dan investasi ketika aktivitas ekonomi perlu diperkuat.

Bedanya dengan bunga bank

BI 7-Day Reverse Repo Rate bukan bunga yang langsung dibayar nasabah kepada bank. Angka ini menjadi patokan bagi pasar keuangan, lalu bank menyesuaikan bunga simpanan dan kredit sesuai biaya dana serta risiko masing-masing.

Karena itu, bunga KPR atau kredit kendaraan tidak selalu berubah pada hari yang sama setelah pengumuman Bank Indonesia. Besar penyesuaiannya juga dapat berbeda antara satu bank dan bank lain.

Perubahan dari BI Rate ke BI 7-Day Reverse Repo Rate

Bank Indonesia sebelumnya menggunakan BI Rate sebagai suku bunga kebijakan. Pada 19 Agustus 2016, Bank Indonesia memperkenalkan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebagai acuan baru. Perubahan ini dibuat agar sinyal kebijakan dapat lebih cepat diteruskan ke pasar uang dan perbankan.

Reverse repo adalah transaksi ketika Bank Indonesia membeli surat berharga dengan kesepakatan untuk menjualnya kembali dalam jangka waktu tertentu. Tenor tujuh hari membuat instrumen ini lebih dekat dengan kebutuhan likuiditas jangka pendek di pasar uang.

Bank Indonesia menjelaskan dalam publikasi BI 7-day Reverse Repo Rate: Instrumen Baru Suku Bunga Kebijakan bahwa instrumen tersebut dirancang agar transmisi kebijakan moneter lebih efektif. Transmisi berarti proses perubahan bunga acuan sampai akhirnya memengaruhi bunga bank, konsumsi, investasi, dan inflasi.

Mengapa acuan baru digunakan

Pasar keuangan bergerak cepat, sehingga bank sentral membutuhkan instrumen yang mudah dipantau pelaku pasar. BI 7-Day Reverse Repo Rate memiliki keterkaitan yang lebih kuat dengan transaksi pasar uang berjangka pendek.

Selain itu, suku bunga ini diumumkan setelah Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Keputusan tersebut mempertimbangkan kondisi inflasi, pertumbuhan ekonomi, stabilitas rupiah, serta situasi ekonomi global.

BI Rate tetap dikenal masyarakat

Meski nama resminya telah berubah, pencarian mengenai suku bunga BI Rate masih tinggi. Istilah ini biasanya digunakan untuk mencari informasi tentang arah bunga acuan Bank Indonesia.

Agar tidak keliru, masyarakat dapat melihat pengumuman resmi Bank Indonesia dan memperhatikan istilah BI 7-Day Reverse Repo Rate. Informasi itu juga berguna sebelum mengambil keputusan kredit atau investasi.

Cara Kerja Suku Bunga BI Rate terhadap Ekonomi

Perubahan bunga acuan memengaruhi ekonomi melalui beberapa jalur. Dampaknya dapat terlihat pada bunga pinjaman, nilai tukar, harga obligasi, serta keputusan belanja rumah tangga. Namun, efeknya berjalan bertahap karena bank dan pelaku usaha membutuhkan waktu untuk menyesuaikan keputusan.

Menurut Perry Warjiyo dan Solikin M. Juhro dalam buku Central Bank Policy: Theory and Practice, kebijakan moneter bekerja melalui mekanisme transmisi yang menghubungkan keputusan bank sentral dengan sektor keuangan dan sektor riil. Artinya, perubahan suku bunga acuan dapat merambat ke kegiatan ekonomi sehari-hari.

Besarnya dampak juga bergantung pada kondisi ekonomi saat itu. Ketika permintaan kredit sedang lemah, penurunan bunga acuan belum tentu langsung membuat masyarakat menambah pinjaman.

Pengaruh pada kredit dan tabungan

Kenaikan suku bunga acuan dapat mendorong bank menaikkan bunga deposito dan kredit. Cicilan dengan bunga mengambang, seperti sebagian KPR, berpotensi ikut naik setelah bank melakukan penyesuaian.

Sebaliknya, bunga acuan yang turun dapat membantu menekan biaya kredit. Nasabah tetap perlu membaca ketentuan bunga tetap dan bunga mengambang sebelum menandatangani perjanjian pinjaman.

Pengaruh pada rupiah dan inflasi

Bunga yang lebih tinggi dapat membuat instrumen keuangan berdenominasi rupiah lebih menarik bagi investor. Langkah ini dapat membantu menjaga nilai tukar ketika tekanan dari pasar global meningkat.

Namun, suku bunga tinggi juga dapat membuat pinjaman lebih mahal bagi dunia usaha. Karena itu, Bank Indonesia perlu menyeimbangkan pengendalian inflasi dengan kebutuhan pertumbuhan ekonomi saat menetapkan suku bunga BI Rate.