
Setiap perusahaan perlu menentukan seberapa jauh risiko dapat diterima saat mengejar target bisnis. Keputusan membuka cabang, memberi kredit, meluncurkan produk, hingga memakai teknologi baru selalu membawa risiko. Karena itu, manajemen perlu memiliki batas yang jelas agar peluang bisnis tidak berubah menjadi kerugian besar.
Risk appetite adalah tingkat dan jenis risiko yang bersedia diambil organisasi untuk mencapai tujuan. Konsep ini membantu pimpinan menentukan arah keputusan dengan ukuran yang sama, mulai dari direksi hingga tim operasional.
Pengertian Risk Appetite dan Istilah yang Berkaitan
Risk appetite memberi gambaran tentang sikap perusahaan terhadap risiko. Ada organisasi yang siap mengambil risiko lebih tinggi demi pertumbuhan cepat, sementara organisasi lain memilih langkah yang lebih hati hati. Pilihan tersebut harus sesuai dengan kondisi keuangan, tujuan bisnis, serta aturan yang berlaku.
Dalam praktik manajemen risiko, risk appetite perlu dituangkan secara tertulis agar dapat dipahami seluruh unit kerja. Otoritas Jasa Keuangan juga mengatur bahwa bank perlu menerapkan manajemen risiko sesuai tujuan, kebijakan usaha, ukuran, dan kompleksitas bisnisnya. Sumber: Otoritas Jasa Keuangan.
Arti Risk Appetite
Risk appetite adalah batas umum risiko yang dapat diterima perusahaan dalam mengejar sasaran. Misalnya, perusahaan ritel dapat menetapkan batas kerugian tertentu untuk mencoba lokasi toko baru. Jika proyeksi risikonya melampaui batas itu, manajemen perlu meninjau ulang rencana tersebut.
Bedanya dengan Risk Tolerance dan Risk Capacity
Risk tolerance adalah batas penyimpangan yang masih dapat diterima dalam kegiatan tertentu. Contohnya, perusahaan bisa menargetkan keterlambatan pengiriman maksimal dua persen per bulan. Sementara itu, risk capacity adalah kemampuan nyata perusahaan menanggung risiko berdasarkan modal, arus kas, aset, dan sumber daya yang dimiliki.
Perkembangan Risk Appetite dalam Manajemen Risiko
Konsep risk appetite berkembang seiring kebutuhan organisasi untuk mengendalikan risiko secara lebih terarah. Dulu, banyak keputusan risiko hanya bergantung pada penilaian individu atau respons setelah masalah muncul. Kini, organisasi didorong menentukan batas risiko sejak tahap perencanaan.
Pendekatan ini makin dikenal luas dalam tata kelola perusahaan dan sektor keuangan. Standar SNI ISO 31000:2018 menempatkan manajemen risiko sebagai proses yang terintegrasi dengan tata kelola, strategi, perencanaan, serta budaya organisasi. Sumber: Badan Standardisasi Nasional.
Peran Tata Kelola Perusahaan
Direksi dan komisaris perlu memahami risiko utama yang dapat mengganggu tujuan perusahaan. Dengan risk appetite, mereka memiliki dasar untuk menilai apakah sebuah keputusan masih sejalan dengan strategi bisnis. Pengawasan juga menjadi lebih terukur karena batasnya sudah ditetapkan sejak awal.
Penerapan di Indonesia
Di sektor jasa keuangan, penerapan manajemen risiko mendapat perhatian dari OJK. Perusahaan pembiayaan, asuransi, dana pensiun, dan lembaga jasa keuangan lain perlu membangun proses untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, serta mengendalikan risiko. Sumber: Otoritas Jasa Keuangan.
Cara Menentukan Risk Appetite di Perusahaan
Penetapan risk appetite tidak cukup dilakukan dengan satu angka. Perusahaan perlu melihat tujuan, kondisi keuangan, jenis usaha, dan risiko yang paling mungkin terjadi. Proses ini sebaiknya melibatkan direksi, unit risiko, keuangan, kepatuhan, dan pimpinan operasional.
Hasilnya perlu dikomunikasikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Selain itu, perusahaan perlu meninjau kembali batas risiko ketika strategi, kondisi ekonomi, atau aturan berubah. Berikut langkah yang dapat dilakukan.
Tetapkan Tujuan dan Risiko Utama
- Tentukan target bisnis yang ingin dicapai, seperti pertumbuhan penjualan atau perluasan pasar.
- Petakan risiko utama, misalnya risiko kredit, kerugian keuangan, gangguan sistem, atau pelanggaran aturan.
- Nilai kemampuan perusahaan menanggung kerugian melalui modal, kas, dan aset yang tersedia.
- Tetapkan batas yang jelas, misalnya rasio utang, jumlah kredit macet, atau toleransi gangguan layanan.
- Laporkan dan tinjau batas tersebut secara berkala agar tetap sesuai dengan kondisi bisnis.
Gunakan Indikator yang Mudah Dipantau
Perusahaan dapat memakai indikator risiko utama atau key risk indicator. Indikator ini berupa ukuran yang memberi tanda awal ketika risiko mulai mendekati batas, misalnya kenaikan piutang menunggak atau penurunan kas. Dengan pemantauan rutin, manajemen dapat bertindak sebelum masalah menjadi lebih besar.
Sesuaikan dengan Karakter Industri
Risk appetite perusahaan teknologi tentu berbeda dengan bank atau rumah sakit. Perusahaan teknologi mungkin lebih siap menanggung risiko pengembangan produk, sedangkan bank perlu lebih ketat mengelola risiko likuiditas dan kredit. Karena itu, risk appetite adalah pedoman yang harus disesuaikan dengan jenis usaha, bukan disalin dari perusahaan lain.











