Cerita Mitra

Dari Titip di Angkringan ke Pesanan Online: Kisah Ibu Merry Sebagai Mitra Amartha Membesarkan Usaha Peyek Rumahan

08 Nov 2026 • 7 min read

Ditulis oleh Tim Blog Amartha
Dari Titip di Angkringan ke Pesanan Online: Kisah Ibu Merry Sebagai Mitra Amartha Membesarkan Usaha Peyek Rumahan

Pagi di sebuah rumah di Banjarsari, Solo, selalu dimulai dengan bunyi adonan yang dituang ke minyak panas. Kriuk, kriuk. Di depan wajan, Ibu Merry (45) cekatan mencetak lembar demi lembar peyek, sementara aroma bawang dan kencur memenuhi dapur.

Siapa sangka, usaha peyek rumahan yang dulu cuma coba-coba ini sekarang jadi penopang biaya sekolah empat anaknya. Bahkan, Ibu Merry kini bisa menabung, sesuatu yang dulu terasa jauh.

Ini kisah tentang keberanian memulai dari dapur sendiri, tentang modal usaha yang datang di saat yang tepat, dan tentang seorang ibu rumah tangga yang menemukan kepercayaan dirinya kembali.

Berawal dari Coba-Coba di Dapur Sendiri

Peyek sebenarnya bukan dunia baru bagi keluarga Ibu Merry. Sang suami lebih dulu menggeluti pekerjaan membuat peyek. Ibu Merry awalnya hanya ikut membantu dan mencoba-coba resep sendiri.

"Awal mula coba-coba, terus keterusan peyek ini," kenangnya sambil tertawa.

Cara jualannya pun sederhana. Peyek buatannya dititipkan di angkringan dan warung-warung sekitar rumah. Strategi titip jual ini ternyata ampuh. Pelanggan yang suka mulai mencari, lalu memesan langsung.

Tentu tidak semua orang langsung percaya. "Respon konsumen awalnya ada yang ragu, tapi kita coba sedikit-sedikit," katanya. Lama-lama, rasa yang bicara. Pembeli mengenal peyeknya sebagai peyek yang gurih, renyah, dan enak, tiga kata yang sampai sekarang jadi andalannya.

Sempat Ragu, Lalu Menemukan Modal Usaha dan Teman Seperjuangan

Pesanan mulai berdatangan, tapi peralatan seadanya membuat produksi terbatas. Di titik inilah banyak ibu rumah tangga tertahan: usaha sudah jalan, tapi modal usaha untuk naik kelas belum ada.

Suatu hari, seorang tetangga mengajak Ibu Merry bergabung menjadi Mitra Amartha. Jujur saja, ia ragu. Pinjam uang bukan keputusan kecil, apalagi dengan empat anak yang masih sekolah.

Ia memilih ikut kumpulan kelompok lebih dulu, mendengar cerita ibu-ibu lain, dan melihat sendiri bagaimana pertemuannya berjalan. Setelah merasa yakin, barulah ia mantap bergabung. Mba Anis, petugas yang mendampinginya, juga membantu sejak awal, bahkan mengajaknya ikut bazar untuk memperkenalkan produk.

Pinjaman pertamanya sebesar Rp5 juta. Uang itu tidak dipakai untuk keperluan lain, melainkan langsung untuk kebutuhan produksi:

  • kompor baru,
  • wajan yang lebih besar,
  • dan stok bahan baku.

Yang ia dapat bukan hanya pinjaman. Ada pendampingan rutin dari tim lapangan, dan kebiasaan menabung melalui aplikasi resmi Amartha, AmarthaFin. Tak terasa, kini, sudah empat tahun Ibu Merry menjadi bagian dari Amartha.

Pagi Produksi, Siang Packing, Sore Kirim

Dengan peralatan baru, ritme kerja Ibu Merry makin tertata. Setiap hari polanya sama: pagi produksi, siang packing, sore kirim pesanan.

Peyeknya kini hadir dalam empat varian rasa:

  1. Original
  2. Kacang
  3. Rebon (udang kecil)
  4. Cabai

Peyek dijual Rp60.000 per kilogram. Harga ini sudah ia pakai sejak awal 2025, dan penjualan tetap lancar meski harga bahan baku sedang mahal.

Cara pemasarannya juga berkembang. Dulu ia mengandalkan getok tular dari mulut ke mulut. Sekarang Ibu Merry sudah jualan peyek online lewat media sosial dan saluran lain, sehingga pesanan datang lebih banyak dan dari lebih jauh.

Tips dari Ibu Merry: mulai dari titip jual di warung dan angkringan untuk menguji rasa. Setelah ada pelanggan tetap, baru perluas ke pemasaran online.

Rahasia Kecil: Dompet Usaha dan Dompet Dapur Dipisah

Bagi Ibu Merry, perubahan terbesar setelah bergabung bukan cuma soal omzet. "Perubahan yang dirasakan: pengelolaan keuangan lebih baik," ujarnya.

Sejak awal bergabung, ia sudah mendapat pengarahan soal cara mengelola keuangan usaha kecil. Dari situ, ia membangun beberapa kebiasaan sederhana yang konsisten dijalankan:

  • Pisahkan uang usaha dan uang rumah tangga. Uang belanja dapur dan uang jualan punya dompet masing-masing. Dengan begitu, modal tidak terpakai untuk kebutuhan harian tanpa sadar.
  • Bagi pendapatan dengan persentase. Sebagian untuk diputar lagi sebagai modal, sebagian untuk kebutuhan sehari-hari.
  • Sisihkan sebisa mungkin. "Kita sebisa mungkin bisa menyisihkan uang," katanya. Sekecil apa pun, menabung jadi kebiasaan.
  • Punya tabungan dengan tujuan jelas. Celengan khusus kebutuhan sekolah anak, dana pendidikan, dan dana darurat untuk keadaan tak terduga seperti sakit.

Kebiasaan ini terdengar sederhana, tapi dampaknya besar. Ketika ada kebutuhan mendadak, Ibu Merry tidak perlu panik atau mengambil dari modal usaha.

Tantangan: Lelah dan Harga Bahan yang Naik Turun

Menjalankan usaha sambil mengurus rumah tangga tentu tidak selalu mudah. Ibu Merry mengaku kadang merasa capek dengan aktivitas sehari-hari yang padat dari pagi sampai sore.

Tantangan lain datang dari harga bahan pokok. Kalau bahan naik, mau tidak mau harga jual juga harus ikut dinaikkan. Keputusan ini sering bikin pelaku usaha kecil was-was takut ditinggal pelanggan.

Nyatanya, pelanggan Ibu Merry justru memahami. "Alhamdulillah pembeli mengerti, karena sudah tahu kualitas produk, jadi nggak masalah," ujarnya. Menurut ibu merry, kualitas yang konsisten adalah tabungan kepercayaan, dan tabungan itu yang menolong saat harga harus disesuaikan.

Dulu Menunggu Gajian Suami, Kini Lebih Percaya Diri

Empat tahun berjalan, kondisi ekonomi keluarga Ibu Merry membaik. Pesanan bertambah, pemasukan pun lebih banyak. Kini omzet bersihnya sekitar Rp4,5 juta per bulan dari yang hanya Rp2 jutaan per bulan.

Perubahan paling terasa ada di urusan sekolah anak. "Dulu bayaran sekolah anak harus nunggu suami gajian," kenangnya. Sekarang, kebutuhan sekolah keempat anaknya bisa terpenuhi tanpa harus menunggu tanggal tertentu.

Perannya di rumah juga berubah. Dulu ia ibu rumah tangga yang mengandalkan penghasilan suami. Kini ia mendampingi suami sebagai sesama pencari nafkah. "Saya pendamping suami lebih banyak dan lebih pede," katanya.

Mimpinya pun makin konkret: suatu hari membuka kedai kecil khusus peyek. Dari dapur rumah di Banjarsari, mimpi itu terasa semakin dekat.

Pelajaran untuk Ibu Rumah Tangga yang Ingin Mulai Usaha

Kisah Ibu Merry menunjukkan bahwa peluang usaha rumahan modal kecil itu nyata, asal dijalankan dengan tekun. Ada beberapa hal yang bisa ditiru:

  1. Mulai dari yang dikuasai. Ibu Merry tidak memilih produk yang sedang tren, tapi peyek yang sudah akrab di keluarganya.
  2. Uji pasar dengan titip jual. Warung dan angkringan adalah tempat uji rasa yang murah dan jujur.
  3. Pakai modal untuk hal produktif. Pinjaman Rp5 juta langsung jadi kompor, wajan, dan bahan, bukan kebutuhan konsumtif.
  4. Pisahkan keuangan sejak hari pertama. Dompet usaha dan dompet dapur jangan dicampur.
  5. Jaga kualitas. Pelanggan yang percaya akan bertahan, bahkan saat harga harus naik.
  6. Jangan jalan sendirian. Kelompok dan pendamping membantu Ibu Merry melewati ragu di awal.

Butuh tambahan modal untuk usaha rumahan?

Banyak ibu punya keterampilan dan pelanggan, tapi belum punya akses pinjaman modal usaha untuk ibu rumah tangga yang terasa aman dan dekat. Itulah yang Ibu Merry temukan di Amartha.

Amartha menyalurkan modal kerja untuk perempuan pelaku usaha mikro lewat sistem kelompok, disertai pendampingan usaha dan literasi keuangan.

Seperti kata Ibu Merry, yang ia dapat bukan sekadar pinjaman, tapi juga teman belajar dan kebiasaan mengatur uang. Kalau Ibu punya usaha kecil dan ingin mengembangkannya, coba cari tahu tentang Modal Amartha di amartha.com atau tanyakan ke petugas Amartha di desa Ibu.

Siapa tahu, cerita sukses berikutnya datang dari dapur Ibu sendiri.

Atau Anda ingin ikut mendukung UMKM perempuan seperti Ibu Merry?

Di balik modal Rp5 juta yang mengubah dapur Ibu Merry, ada para pendana yang memilih menyalurkan dananya ke usaha akar rumput. Kalau Anda ingin uang yang bertumbuh sekaligus berdampak, Anda bisa ikut ambil bagian.

Lewat Amartha Prosper, dana Anda disalurkan ke pembiayaan usaha produktif perempuan pelaku UMKM di berbagai daerah, lengkap dengan pendampingan usaha bagi para mitranya. Ada beberapa profil investasi yang bisa dipilih sesuai preferensi risiko, dan semuanya diakses lewat aplikasi Amartha, AmarthaFin.

Bisa jadi, dana Anda yang membantu ibu berikutnya membeli wajan pertamanya.

Tags