Keuangan & Gaya Hidup

Deretan Crazy Rich Surabaya dan Bisnisnya

07 Jul 2023 • 8 min read

Ditulis oleh Tim Blog Amartha
Deretan Crazy Rich Surabaya dan Bisnisnya

Surabaya dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan dan bisnis terbesar di Indonesia. Kota ini bukan hanya menjadi pintu gerbang perdagangan di Jawa Timur, tetapi juga melahirkan dan menjadi basis sejumlah pengusaha besar Indonesia.

Ada sejumlah nama crazy rich Surabaya yang masuk di dalam daftar orang terkaya Indonesia. Kekayaan yang melimpah ruah menjadi penyebab mengapa mereka berada di dalam daftar tersebut. Perlu diketahui, dari 50 daftar crazy rich Indonesia yang dirilis oleh Forbes, terdapat 5 konglomerat yang berasal dari Surabaya.

Beberapa nama yang kerap dikaitkan dengan Surabaya dan Jawa Timur bahkan masuk dalam daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes. Namun, daftar tersebut dapat berubah setiap tahun mengikuti nilai aset, kepemilikan saham, dan perkembangan bisnis.

Lantas, siapa saja orang terkaya di Surabaya dan apa bisnis mereka?

Daftar Orang Terkaya di Surabaya

Berikut beberapa tokoh yang memiliki keterkaitan kuat dengan Surabaya atau Jawa Timur dan tercatat dalam daftar orang terkaya Indonesia.

TokohBisnis utamaSektor
Tahir & familyMayapada GroupDiversifikasi, perbankan, kesehatan, properti
Wijono & Hermanto Tanoko & familyTancorp, Avian BrandsManufaktur, konsumer, properti
Susilo Wonowidjojo & familyGudang GaramManufaktur
Alexander TedjaPakuwon Group/Pakuwon JatiProperti
Eddy Katuari & familyWings GroupManufaktur dan consumer goods

Catatan: daftar dan nilai kekayaan dapat berubah mengikuti kondisi pasar. Forbes Indonesia’s 50 Richest 2025, misalnya, mencatat Tahir & family dengan kekayaan US$9,8 miliar, Wijono & Hermanto Tanoko & family US$8,1 miliar, Susilo Wonowidjojo & family US$3,2 miliar, dan Eddy Katuari & family US$995 juta.

Sosok Crazy Rich Surabaya

Berikut beberapa sosok konglomerat Surabaya, antara lain:

1. Susilo Wonowidjojo

Susilo Wonowidjojo merupakan salah satu tokoh utama di balik Gudang Garam, perusahaan yang didirikan oleh ayahnya, Surya Wonowidjojo, pada 1958. Susilo Wonowidjojo merupakan penerus dari bisnis Gudang Garam. Susilo Wonowidjojo bahkan berada di urutan ke 7 orang paling kaya di Indonesia pad atahun 2023.

Sesuai catatan dari Forbes, Susilo Wonowidjojo memiliki kekayaan hingga USD 4,8 miliar atau setara Rp71.2 triliun pada tahun 2023.

Sebelum berada di bawah kepemimpinan Susilo Wonowidjojo, Gudang Garam dikelola oleh kakaknya yaitu Rachman Halim hingga tahun 2008, setelah sang kakak meninggal, Susilo Wonowidjojo kemudian menjabat sebagai direktur sedangkan adiknya yaitu Juni Setiawati menjadi komisaris.

Dalam daftar Forbes Indonesia’s 50 Richest 2025, Susilo Wonowidjojo & family berada di posisi ke-25 dengan kekayaan sekitar US$3,2 miliar. Perjalanan keluarga Wonowidjojo menunjukkan bagaimana bisnis yang dibangun dari satu generasi dapat diteruskan dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.

Selain bisnis rokok, Gudang Garam juga telah melakukan diversifikasi ke bidang lain, termasuk pembangunan infrastruktur dan proyek properti. Forbes pernah mencatat keterlibatan perusahaan dalam pembangunan Bandara Dhoho di Kediri.

2. Wijono & Hermanto Tanoko

Ketika membicarakan orang terkaya di Surabaya, nama Wijono & Hermanto Tanoko tidak boleh terlewat. Wijono & Hermanto Tanoko merupakan pemilik dari bisnis cat PT Avia Avian.

Di bawah kepemimpinan dari Wijono & Hermanto Tanoko, perusahaan ini berhasil melantai di Bursa Efek Indonesia di tahun 2021, dengan harga pelaksanaan Rp930. Dilansir dari website resminya, perusahaan ini membawahi 8 perusahaan yang bergerak di berbagai bidang. Wijono & Hermanto Tanoko menempati urutan nomor 11 orang paling kaya di Indonesia pada tahun 2023.

Forbes mencatat jika kekayaan Wijono & Hermanto Tanoko mencapai Rp48,9 triliun di tahun 2025. Kedua kakak beradik ini adalah penerus dari bisnis produsen cat paling besar kedua di Indonesia. Bisnis tersebut didirikan oleh sang ayah.

Dalam daftar Forbes 2025, Wijono & Hermanto Tanoko & family berada di posisi ke-9 orang terkaya Indonesia dengan kekayaan sekitar US$8,1 miliar. Perjalanan Hermanto Tanoko juga menunjukkan bagaimana pengalaman dari bisnis keluarga dapat dikembangkan menjadi usaha dengan cakupan yang lebih luas.

Forbes mencatat bahwa sejak kecil Hermanto sudah terbiasa membantu orang tuanya yang menjalankan toko bahan kebutuhan sehari-hari dan toko cat. Pengalaman tersebut kemudian membentuk pemahamannya mengenai pelanggan, produk, hingga margin bisnis. Saat ini, Tancorp Group memiliki portofolio bisnis yang meliputi berbagai sektor, termasuk konsumer, bahan baku, dan properti.

3. Tahir

Tahir merupakan pendiri Mayapada Group, kelompok usaha dengan bisnis yang mencakup perbankan, kesehatan, media, dan properti.

Dalam daftar Forbes Indonesia’s 50 Richest 2025, Tahir & family berada di posisi ke-7 dengan kekayaan sekitar US$9,8 miliar.

Forbes mencatat perjalanan bisnis Tahir dimulai dari sejumlah usaha sebelum kemudian berkembang ke bisnis yang lebih beragam. Ia mendirikan Mayapada Group yang kini memiliki kepentingan di berbagai sektor.

Baca Juga: Jadi Pemilik Salim Grup dan Konglomerat di Indonesia, Ini Biografi Anthony Salim

4. Alexander Tedja

Nama crazy rich Surabaya yang tidak boleh dilewatkan lainnya adalah Alexander Tedja. Alexander Tedja adalah pengembang real estate Pakuwon Jati yang sudah berdiri dari tahun 1982. Perusahaannya go public di tahun 1989.

Alexander Tedja terkenal sebagai seorang pengembang mixed use yang menggabungkan perkantoran, kondominium hotel serta mall yang tersebar di kota Jakarta dan Surabaya. Alexander Tedja juga merupakan pecinta karya seni. Tercatat kekayaan yang dimilikinya mencapai Rp16.3 triliun pada tahun 2023.

Forbes mencatat bahwa Pakuwon Jati mulai berdiri pada 1982 dan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 1989.

5. Eddy William Katuari

Nama lainnya adalah Eddy William Katuari. Eddy William Katuari merupakan pemimpin dari Wings Group. Pada tahun 2023, Eddy William Katuari berada di urutan nomor 39 dari 50 orang paling kaya di Indonesia menurut Forbes dengan kekayaan yang dimiliki Eddy William Katuari mencapai Rp16.3 triliun. Kekayaan tersebut ditopang dari bisnis yang dimilikinya. Eddy William Katuari memimpin Wings Group tahun 2004.

Sedangkan dalam daftar Forbes Indonesia’s 50 Richest 2025, Eddy Katuari & family tercatat di posisi ke-49 dengan kekayaan sekitar US$995 juta melalui bisnis Wings yang memiliki di sektor consumer goods, termasuk produk rumah tangga dan kebutuhan sehari-hari.

Surabaya dan Ekosistem Bisnisnya

Menariknya, kisah para pengusaha besar tersebut bukan satu-satunya indikator aktivitas ekonomi Surabaya.

Perekonomian Surabaya sendiri terus berkembang. Berdasarkan data BPS yang dirilis pada Februari 2026, ekonomi Surabaya tumbuh 5,87% pada 2025, dengan PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp830,54 triliun. Sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor menjadi salah satu kontributor terbesar dengan porsi 26,97%.

Di tingkat UMKM, Pemerintah Kota Surabaya juga melaporkan bahwa sepanjang 2025 terdapat 5.250 UMKM yang memperoleh berbagai bentuk intervensi, termasuk pelatihan pemasaran dan pendampingan legalitas usaha.

Surabaya Great Expo juga mencatat perputaran transaksi lebih dari Rp30,3 miliar sepanjang 2022–2025, dengan sekitar 370 UMKM binaan yang difasilitasi dalam penyelenggaraannya.

Artinya, ekosistem bisnis Surabaya tidak hanya dibentuk oleh perusahaan besar. UMKM, pedagang, pekerja, produsen, dan berbagai pelaku ekonomi lainnya turut menjadi bagian dari roda perekonomian kota.

Apa Hubungan Bisnis dan Investasi dengan Kekayaan?

Kekayaan seseorang umumnya tidak hanya berasal dari pendapatan aktif. Secara sederhana, sumber pembentukan kekayaan dapat berasal dari:

Pendapatan → ditabung → dialokasikan ke aset produktif → menghasilkan pendapatan/pertumbuhan → diinvestasikan kembali.

Bagi pengusaha, aset produktif dapat berupa bisnis, peralatan, persediaan, atau properti. Sementara bagi investor, aset produktif dapat berupa berbagai instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan.

Karena itu, membangun kekayaan bukan hanya tentang berapa banyak uang yang dimiliki, tetapi bagaimana uang tersebut dikelola dan dialokasikan.

Bisnis dan Investasi: Dua Cara Mengembangkan Aset

Ada perbedaan antara membangun kekayaan melalui bisnis dan investasi.

BisnisInvestasi
Membutuhkan keterlibatan dalam operasionalDapat lebih pasif, tergantung instrumen
Modal digunakan untuk aktivitas usahaDana dialokasikan ke instrumen investasi
Potensi pendapatan berasal dari keuntungan bisnisPotensi hasil berasal dari kinerja aset/instrumen
Risiko terkait operasional dan pasarRisiko bergantung pada instrumen investasi
Membutuhkan pengelolaan bisnisMembutuhkan pemahaman dan pengelolaan portofolio

Keduanya tidak harus dipertentangkan.

Seorang pengusaha dapat mengalokasikan sebagian hasil bisnis untuk investasi. Sebaliknya, investor juga dapat memilih investasi yang memberikan eksposur pada aktivitas ekonomi produktif.

Mengapa Diversifikasi Penting dalam Membangun Kekayaan?

Salah satu pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan para pengusaha besar adalah pentingnya tidak bergantung pada satu sumber kekayaan saja.

Bagi investor individu, diversifikasi dapat dilakukan dengan mempertimbangkan:

  • tujuan investasi;
  • jangka waktu;
  • profil risiko;
  • kebutuhan likuiditas;
  • jumlah dana yang tersedia.

Diversifikasi bukan berarti menghilangkan risiko. Tujuannya adalah mengelola risiko dengan tidak menempatkan seluruh dana pada satu aset atau satu sumber pendapatan.

Kisah orang terkaya di Surabaya bukan hanya tentang siapa yang memiliki kekayaan paling besar. Di balik angka tersebut terdapat perjalanan panjang dalam membangun bisnis, mengelola aset, mengembangkan modal, dan mengambil keputusan investasi.

Bagi masyarakat yang sedang membangun kekayaan, pelajarannya dapat dimulai dari hal yang sederhana: bangun sumber pendapatan, kelola arus kas, sisihkan dana secara konsisten, kemudian alokasikan modal ke aset atau investasi yang sesuai dengan tujuan.

Bagi investor yang ingin mengembangkan portofolio sekaligus menempatkan dana pada aktivitas ekonomi produktif, Amartha Prosper menghadirkan pilihan investasi yang terhubung dengan pembiayaan bisnis di ekonomi akar rumput.

Melalui Grassroots Growth Series, investor dapat memilih profil investasi seperti Balanced, Progressive, dan Dynamic sesuai dengan karakteristik produk dan kebutuhan investasinya

Sementara bagi pemilik usaha, modal yang dikelola secara produktif dapat membantu bisnis meningkatkan kapasitas dan menciptakan sumber pendapatan baru.

Pada akhirnya, membangun kekayaan bukan perlombaan untuk mendapatkan hasil terbesar dalam waktu singkat. Ini merupakan proses mengelola pendapatan, modal, bisnis, aset, dan investasi secara berkelanjutan.

*Artikel ini diupdate Oktober 2026

Tags