Loading...
Loading...
03 Aug 2026 • 5 min read

Jakarta, 11 Juni 2026 – Akses layanan keuangan di Indonesia terus meluas. Berdasarkan laporan OJK, inklusi keuangan Indonesia telah mencapai sekitar 90%, namun masih terdapat gap sekitar 25–30% antara inklusi dan literasi keuangan. Di sektor fintech, literasi keuangan tercatat di angka 13%, sementara tingkat inklusi baru mencapai 36%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan ekosistem keuangan inklusif tidak dapat hanya bertumpu pada perluasan akses terhadap layanan keuangan. Diperlukan kombinasi antara infrastruktur, investasi, konektivitas, literasi, pendampingan, serta desain produk yang relevan agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat akar rumput.
Hal tersebut menjadi fokus pembicaraan dalam diskusi panel bertajuk “Infrastructure, Investment, Impact: Building Inclusive Financial Ecosystems” yang digelar dalam rangkaian The 2026 Asia Grassroots Forum. Panel ini menghadirkan sejumlah narasumber lintas sektor, yaitu Veronica Tan, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; Rudiantara, Komisaris Utama Amartha sekaligus Menteri Komunikasi dan Informatika RI 2014–2019; Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI 2020–2024; Tigor M. Siahaan, President Director Superbank; serta Yessie D. Yosetya, Director and Chief Information Technology Officer PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. Diskusi dimoderatori oleh Eddi Danusaputro, BNI Ventures dan Chairman AMVESINDO.
Para panelis menyoroti pentingnya membangun ekosistem yang mampu menghubungkan akses keuangan dengan dampak nyata melalui pemberdayaan perempuan, akses pasar, financial health, konektivitas digital, serta produk digital yang mudah digunakan.
Pemberdayaan Perempuan sebagai Fondasi Ketahanan Keluarga dan Ekonomi Akar Rumput
Di tingkat akar rumput, pemberdayaan perempuan menjadi salah satu fondasi penting karena perempuan memiliki peran langsung dalam menjaga ketahanan keluarga, menggerakkan komunitas, dan memperkuat ekonomi lokal.
Veronica Tan menekankan bahwa perempuan perlu ditempatkan sebagai subjek penting dalam strategi ekonomi, bukan sekadar penerima manfaat. Menurutnya, perempuan dan anak-anak termasuk kelompok yang paling terdampak oleh perubahan iklim, krisis pangan, serta tekanan ekonomi keluarga. Karena itu, pemberdayaan perempuan perlu menjadi bagian dari agenda pembangunan yang lebih luas, termasuk melalui akses lahan, edukasi, coaching, pembiayaan, dan keberlanjutan.
“Salah satu program yang diselenggarakan Kementerian PPPA adalah Kebun Pangan Perempuan, untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pengelolaan lahan dan penguatan komunitas perempuan. Program ini juga dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan kepercayaan diri perempuan agar lebih berdaya secara ekonomi,” ujar Veronica.
Edukasi, Akses Pasar, dan Pembiayaan, Jalan UMKM Akar Rumput untuk Naik Kelas
Dari perspektif kewirausahaan, Sandiaga Uno menilai bahwa entrepreneur akar rumput membutuhkan tiga hal utama agar dapat naik kelas, yaitu akses terhadap pendidikan, akses pasar, dan akses pembiayaan yang tepat. “Tahap awal, akses pasar sering kali menjadi kebutuhan yang lebih mendesak dibandingkan pembiayaan, karena pelaku usaha kecil perlu memastikan produknya dapat terserap oleh pasar. Untuk itu, edukasi keuangan sangat penting agar pelaku usaha kecil tidak terjebak pada skema pembiayaan yang tidak sehat,” ujar Sandiaga.
Sejalan dengan itu, Rudiantara menekankan bahwa inklusi keuangan harus diiringi dengan literasi dan financial health.
“Inklusi keuangan saja tidak cukup. Masyarakat perlu memahami cara mengelola keuangan secara bijak, bukan sekadar memiliki akses terhadap produk keuangan,” ujarnya.
Menurut Rudiantara, pendekatan literasi keuangan juga perlu disesuaikan dengan karakteristik masyarakat yang dilayani. Untuk masyarakat rural, pendampingan langsung masih menjadi faktor penting dalam membangun pemahaman dan perilaku keuangan yang sehat. Ia menambahkan bahwa Amartha berfokus pada perempuan di wilayah rural, dengan sekitar 70% mitra atau customer berada di luar Jawa, dan didukung lebih dari 9.000 tenaga lapangan yang memberikan pendampingan secara langsung.
Membangun Kebiasaan Keuangan Sehat melalui Produk Digital yang Mudah Diakses
Dari sisi bank digital, Tigor M. Siahaan menekankan pentingnya menghadirkan aplikasi dan produk keuangan yang sederhana, ringan, dan mudah digunakan oleh masyarakat akar rumput. ”Masih banyak masyarakat yang membutuhkan agen untuk melakukan transaksi sederhana seperti transfer dana. Hal ini menunjukkan bahwa produk digital perlu dirancang sesuai dengan kemampuan, kebiasaan, dan keterbatasan pengguna.
Tigor juga mencontohkan produk Celengan yang dikembangkan Amartha untuk membantu masyarakat menyisihkan dana secara rutin mulai dari Rp10.000. Menurutnya, kebiasaan tersebut menjadi langkah awal dalam membangun aset dan kesehatan keuangan secara bertahap.
Konektivitas dan Literasi Digital sebagai Penggerak Produktivitas Masyarakat Akar Rumput
Melengkapi perspektif tersebut, Yessie D. Yosetya menegaskan bahwa layanan digital, termasuk aplikasi keuangan, tidak dapat berjalan tanpa konektivitas. Menurutnya, konektivitas perlu dilihat dalam dua lapisan, yaitu memastikan akses internet tersedia dan memastikan akses tersebut dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi.
”Masih terdapat titik-titik wilayah di Indonesia yang belum memiliki konektivitas memadai, terutama di daerah 3T. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur telekomunikasi menjadi pondasi penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan digital.”
Yessie menjelaskan bahwa pemanfaatan internet umumnya terbagi ke dalam tiga tahap, yaitu hiburan, peningkatan pengetahuan, dan produktivitas. Karena itu, masyarakat perlu didorong agar tidak hanya menggunakan internet untuk konsumsi konten, tetapi juga untuk memperluas wawasan dan meningkatkan produktivitas.
Para panelis sepakat bahwa akses terhadap pembiayaan, layanan keuangan, pasar, maupun internet perlu diiringi dengan edukasi, pendampingan, dan pemanfaatan yang produktif. Pembangunan ekosistem keuangan inklusif tidak hanya membutuhkan investasi pada infrastruktur fisik dan digital, tetapi juga penguatan literasi, teknologi, serta pendekatan berbasis komunitas. Dengan ekosistem yang terintegrasi, masyarakat dapat menjadi penerima manfaat dan penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.