

Tahun 2026 Fintech Berpotensi Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Amartha Salurkan Triliunan Rupiah ke UMKM Desa
By Tim Blog Amartha - 26 Jan 2026 - 3 min membaca
Jakarta, 23 Januari 2026 - Financial technology (fintech) merupakan salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain menciptakan lapangan kerja dan mendorong inklusi keuangan nasional, sektor ini turut memperkuat perputaran ekonomi daerah melalui UMKM, sekaligus menarik minat investor asing untuk berinvestasi di industri fintech. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat layanan keuangan digital seperti permodalan, investasi mikro, pembayaran digital, menyumbang 80,5 persen angka inklusi keuangan secara nasional.
Sejalan dengan perkembangan itu, Amartha sebagai fintech yang telah 16 tahun melayani UMKM akar rumput turut mencatatkan pertumbuhan yang sehat. Sejak 2010 Amartha sudah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun modal kerja termasuk Rp13,2 triliun di 2025, kepada lebih dari 3,7 juta UMKM di lebih dari 50.000 desa. Pertumbuhan ini berlandaskan pemahaman Amartha yang mendalam akan kebutuhan dan perilaku masyarakat perdesaan serta pemanfaatan teknologi AI secara tepat guna, sebagai faktor kunci Amartha dalam menjaga kualitas portofolio.
Andi Taufan Garuda Putra, Founder & CEO Amartha menyampaikan, “Di tahun 2025, Amartha semakin memperkuat posisinya sebagai fintech penyedia layanan keuangan yang lengkap bagi UMKM dan masyarakat perdesaan. Produk kami didesain atas dasar pemahaman mendalam tentang kebutuhan, masalah, dan solusi yang diharapkan oleh UMKM akar rumput. Perkembangan ini juga diiringi dengan semakin kuatnya tata kelola dan mitigasi risiko. Kombinasi pemahaman market, produk yang relevan, tata kelola, dan partnership dengan institusi global, menjadi fondasi Amartha untuk terus tumbuh berkelanjutan.”
Amartha telah memperoleh izin dompet digital dari Bank Indonesia, yang semakin melengkapi layanan keuangan digital di AmarthaFin. Dengan satu aplikasi, pengguna dapat melakukan investasi mikro, pembayaran digital dan jaringan AmarthaLink, hingga pengajuan pinjaman modal kerja yang cepat. Layanan ini sesuai dengan karakteristik UMKM akar rumput yang membutuhkan layanan keuangan cepat, mudah, dan terjangkau.
Selain itu, untuk mendukung masyarakat yang belum terjangkau oleh akses layanan keuangan digital, Amartha membangun jaringan program AmarthaLink. Melalui program ini, pengguna aplikasi AmarthaFin dapat menawarkan layanan pembayaran digital seperti pembayaran pulsa dan cicilan, kepada komunitas sekitar yang membutuhkan. Pada akhir 2025, lebih dari 50.000 pengguna sudah bergabung di program AmarthaLink sebagai solusi perluasan infrastruktur dan layanan digital di perdesaan.
Ditemui dalam kegiatan media gathering, Rudiantara, Komisaris Utama Amartha menjelaskan potensi fintech untuk menarik minat investor internasional. “Dengan model bisnis yang jelas, perempuan pengusaha mikro sebagai target pasar spesifik, manajemen risiko yang baik serta penerapan governansi (tata kelola) standar perusahaan publik menghasilkan kinerja Amartha yang solid secara fundamental. Selain meningkatkan kepercayaan bagi lebih dari 30 investor nasional maupun internasional, kinerja Amartha juga otomatis menjadi penggerak ekonomi di akar rumput.”
Secara umum, sektor fintech Indonesia masih menunjukkan daya tarik bagi investor global. Di tengah dinamika pendanaan global, aliran investasi asing ke fintech tercatat mencapai US$549 juta pada 2024, yang menunjukkan bahwa fintech memiliki fondasi dan tetap menarik pendanaan asing.
Selain menarik minat investor asing, keberadaan fintech pun turut berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja. Di level akar rumput, Amartha mencatatkan UMKM mitra binaannya di desa telah membuka lebih dari 110.000 lapangan kerja. Seiring dengan pencapaian tersebut, 65 persen perusahaan fintech menyebutkan rencana menambah karyawan permanen, yang menunjukkan tingkat kepercayaan diri industri terus tumbuh terhadap prospek ke depan.
Roadmap Fintech di 2026
Memasuki tahun 2026, fintech Indonesia berpeluang untuk berkontribusi lebih besar dalam mendorong ekonomi. Lebih jauh, kehadiran fintech tidak hanya berkontribusi terhadap ekonomi Nasional tetapi juga ekonomi daerah lewat peranan UMKM. Produk dari fintech seperti layanan keuangan dari Amartha, mampu menjangkau segmen akar rumput dan mendorong UMKM untuk tumbuh.
Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital CELIOS menyampaikan, “Data penyaluran kredit untuk UMKM dari perbankan mengalami kontraksi secara tahunan. Padahal di satu sisi, kebutuhan permodalan masih cukup tinggi dalam konteks pengembangan usaha. Pelaku usaha akhirnya mencari sumber pembiayaan alternatif, salah satunya adalah pinjaman daring. Jadi tidak ayal, pertumbuhan pinjaman daring masih cukup tinggi di tahun 2025 dan dilanjutkan di tahun 2026.”
Huda juga menambahkan, “Kehadiran pinjaman daring juga mendorong adanya inklusi keuangan dari penduduk di desa dengan semakin banyaknya agen bank. Pembayaran pinjaman daring bisa melalui agen-agen bank di level desa. Permintaan agen bank akan cukup tinggi. Begitu juga dengan adanya pinjaman daring membuka kesempatan orang untuk berusaha maka ada kenaikan industri.”
Untuk memaksimalkan potensi fintech dalam mendorong ekonomi, sektor swasta perlu jeli dalam melihat peluang dan memitigasi risiko. Misalnya peluang untuk memasuki pasar di luar pulau Jawa, menargetkan segmen masif seperti akar rumput, kemitraan dengan institusi, serta diversifikasi produk keuangan yang relevan, bisa membantu fintech untuk memperkuat fondasinya.
Namun, ekspansi masif tetap harus diiringi dengan mitigasi risiko. Adanya gejolak geopolitik global, potensi fraud, hingga masih rendahnya pemahaman masyarakat untuk menggunakan layanan keuangan digital dengan bijak, perlu diantisipasi oleh perusahaan fintech.
Di tahun 2026, Amartha tetap fokus menjangkau jutaan UMKM akar rumput di Indonesia dan mendorong pertumbuhan inklusif. “Bagi Amartha, 2026 akan menjadi tahun di mana kami memperkuat posisi Amartha sebagai fintech yang melayani segmen akar rumput melalui produk keuangan yang terintegrasi. Amartha hadir untuk mendukung UMKM terus tumbuh, menciptakan lapangan kerja di daerah, membentuk komunitas akar rumput yang tangguh, dan memperbaiki kualitas hidup jutaan keluarga di desa. Dukungan bagi UMKM ini akan dibahas lebih mendalam pada pagelaran Asia Grassroots Forum di bulan Mei mendatang,” lanjut Andi Taufan.
Pada Mei 2026, Amartha akan kembali mengadakan kegiatan Asia Grassroots Forum (AGF). Ini merupakan tahun ketiga Amartha mengadakan forum internasional yang melibatkan para investor global, pembuat kebijakan, dan sektor swasta yang mendukung ekonomi akar rumput, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Tahun ini, AGF 2026 mengusung tema “Enabling Growth, Elevating Financial Health”, di mana diskusi akan membahas strategi kolaborasi untuk mendorong kualitas finansial yang lebih sehat bagi masyarakat akar rumput.
Artikel Terbaru
Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya
Artikel Terkait
Ada pertanyaan seputar artikel di blog Amartha? atau ingin mengirimkan artikel terbaik kamu untuk di publish di blog Amartha?
Hubungi Kami SEKARANG






