Loading...
Loading...

Uang sering terasa cepat habis saat pengeluaran tidak dicatat dan tidak punya batas yang jelas. Kondisi ini bisa terjadi pada rumah tangga, usaha kecil, perusahaan, hingga pemerintah daerah. Karena itu, budgeting membantu seseorang menentukan prioritas penggunaan uang sejak awal.
Budgeting artinya proses menyusun anggaran untuk merencanakan pendapatan, pengeluaran, serta target keuangan dalam periode tertentu. Anggaran tersebut dapat dibuat mingguan, bulanan, atau tahunan sesuai kebutuhan. Dengan budgeting, setiap uang yang masuk dapat diarahkan untuk kebutuhan tertentu sehingga pengeluaran lebih mudah dikendalikan.
Budgeting berasal dari kata budget yang berarti anggaran. Dalam praktiknya, budgeting dipakai untuk memperkirakan kebutuhan dana dan mengendalikan pengeluaran. Cara ini membuat keputusan keuangan lebih terukur karena setiap dana sudah memiliki tujuan.
Anggaran tidak harus rumit atau memakai aplikasi khusus. Catatan sederhana di buku, spreadsheet, atau ponsel sudah cukup untuk memulai. Yang terpenting, angka yang dicatat sesuai dengan kondisi nyata.
Menurut Nafarin dalam buku Penganggaran Perusahaan, anggaran merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif untuk jangka waktu tertentu. Konsep tersebut menunjukkan bahwa anggaran bukan sekadar daftar pengeluaran, tetapi juga alat untuk merencanakan penggunaan sumber daya.
Budgeting membantu membedakan kebutuhan utama dan pengeluaran yang bisa ditunda. Seseorang juga dapat melihat apakah pendapatannya cukup untuk membayar tagihan, menabung, dan memenuhi kebutuhan rutin.
Selain itu, anggaran memudahkan evaluasi saat pengeluaran membengkak. Misalnya, pengeluaran makan di luar dapat dikurangi jika ternyata melewati batas yang sudah ditetapkan. Catatan tersebut juga membantu menemukan kebiasaan kecil yang sering menghabiskan uang tanpa disadari.
Budgeting dapat membuat seseorang lebih siap menghadapi pengeluaran tidak terduga. Jika sebagian pendapatan sudah dialokasikan untuk dana darurat, kebutuhan mendadak tidak harus langsung dibiayai menggunakan utang.
Penghasilan yang besar tidak selalu menjamin kondisi keuangan aman. Tanpa perencanaan, uang dapat habis untuk pengeluaran kecil yang terjadi berulang kali.
Budgeting juga berguna saat ada tujuan besar, seperti membeli kendaraan, membayar pendidikan, atau menyiapkan dana darurat. Target tersebut akan lebih mudah dicapai bila dana disisihkan secara rutin.
Anggaran juga membantu seseorang menentukan batas kemampuan sebelum mengambil cicilan atau pinjaman. Dengan menghitung pendapatan dan kewajiban yang sudah ada, keputusan untuk menambah utang dapat dibuat dengan lebih hati-hati.
Setiap kebutuhan memerlukan bentuk anggaran yang berbeda. Rumah tangga umumnya memakai anggaran sederhana berdasarkan pendapatan bulanan. Sementara itu, perusahaan dan pemerintah menyusun anggaran yang lebih rinci karena melibatkan banyak kegiatan.
Jenis budgeting dapat dipilih berdasarkan tujuan dan tingkat perubahan kondisi keuangan. Pemahaman ini membantu pengguna memilih metode yang paling realistis. Namun jangan salah, metode sederhana tetap bisa efektif jika dijalankan dengan disiplin.
Berikut beberapa jenis budgeting yang umum digunakan.
Anggaran tetap menetapkan jumlah pengeluaran sejak awal dan tidak banyak berubah. Contohnya, seseorang membatasi belanja kebutuhan dapur sebesar Rp1 juta setiap bulan.
Anggaran fleksibel dapat disesuaikan dengan kondisi, seperti kenaikan harga bahan makanan atau pendapatan usaha yang berubah. Metode ini cocok bagi pekerja lepas dan pelaku usaha dengan pemasukan tidak tetap.
Zero based budgeting berarti setiap rupiah pendapatan diberi tujuan, sehingga sisa uang di akhir perencanaan bernilai nol. Nol di sini bukan berarti uang habis dibelanjakan, melainkan sudah dialokasikan untuk kebutuhan, tabungan, cicilan, atau investasi.
Metode ini membantu mengurangi pengeluaran tanpa tujuan. Pengguna perlu mencatat seluruh pemasukan agar pembagian dana tetap akurat.
Membuat anggaran sebaiknya dimulai dari data keuangan yang nyata, bukan perkiraan yang terlalu optimistis. Catat pemasukan dan pengeluaran selama satu bulan untuk melihat pola belanja. Setelah itu, tentukan batas pengeluaran yang masuk akal.
Budgeting akan lebih efektif jika diperiksa secara berkala. Perubahan harga, kebutuhan keluarga, dan kondisi pendapatan dapat memengaruhi rencana awal. Oleh karena itu, anggaran perlu disesuaikan tanpa mengabaikan tujuan utama.
Menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, anggaran berfungsi sebagai pedoman pengelolaan keuangan dalam satu periode. Prinsip perencanaan tersebut juga relevan untuk mengatur keuangan pribadi.
Berikut langkah sederhana yang dapat dilakukan:
Keluarga dengan pendapatan Rp6 juta dapat membagi dana untuk kebutuhan pokok, tagihan, transportasi, tabungan, dan kebutuhan pribadi. Besaran setiap pos perlu menyesuaikan kondisi keluarga, terutama jumlah anggota dan kewajiban cicilan.
Sebagai contoh, keluarga dapat menetapkan batas Rp3 juta untuk kebutuhan pokok dan tagihan, Rp1 juta untuk transportasi serta kebutuhan rutin lainnya, Rp1 juta untuk tabungan dan dana darurat, sementara Rp1 juta sisanya digunakan untuk kebutuhan pribadi atau pengeluaran fleksibel.
Pembagian tersebut bukan aturan baku. Jika biaya kebutuhan pokok lebih besar, alokasi untuk hiburan atau pengeluaran nonprioritas dapat dikurangi. Prinsip utamanya adalah memastikan kebutuhan wajib tetap terpenuhi dan tujuan keuangan tetap mendapatkan alokasi dana.
Jika biaya listrik naik, keluarga dapat mengurangi pos hiburan atau belanja impulsif. Penyesuaian seperti ini membuat anggaran tetap berjalan tanpa mengganggu kebutuhan utama.
Perusahaan menggunakan budgeting untuk merencanakan penjualan, biaya operasional, kebutuhan bahan baku, dan investasi. Anggaran membantu manajemen membandingkan rencana dengan hasil yang benar-benar terjadi.
Jika biaya produksi ternyata lebih tinggi dari anggaran, manajemen dapat mencari penyebabnya dan menentukan langkah perbaikan. Dengan demikian, budgeting tidak hanya digunakan sebelum uang dibelanjakan, tetapi juga untuk mengevaluasi kinerja setelah kegiatan berlangsung.
Pemerintah daerah juga menyusun anggaran melalui APBD untuk membiayai pelayanan publik dan pembangunan. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77 Tahun 2020 mengatur pedoman teknis pengelolaan keuangan daerah, termasuk tahapan perencanaan dan penganggaran.
Kesalahan yang sering terjadi adalah membuat anggaran terlalu ideal tanpa melihat kebiasaan pengeluaran sebenarnya. Akibatnya, batas yang dibuat sulit dipatuhi dan akhirnya ditinggalkan.
Kesalahan lain adalah tidak menyediakan ruang untuk pengeluaran tidak terduga. Anggaran sebaiknya memiliki pos cadangan agar perubahan kecil tidak langsung mengganggu kebutuhan lain.
Selain itu, jangan menganggap budgeting sebagai larangan untuk menikmati penghasilan. Anggaran justru membantu menentukan berapa dana yang aman digunakan untuk hiburan setelah kebutuhan utama, tabungan, dan kewajiban terpenuhi.
Pada akhirnya, budgeting artinya membangun kebiasaan mengelola uang dengan tujuan yang jelas. Anggaran yang sederhana, realistis, dan rutin dievaluasi akan lebih mudah dijalankan dalam jangka panjang. Dengan mencatat pemasukan, menetapkan batas pengeluaran, serta menyisihkan dana untuk tujuan masa depan, kondisi keuangan dapat menjadi lebih terarah dan mudah dikendalikan.