icon-langID
logo-amartha
Home / Blog / Mitra / Tips Bisnis / Fixed Cost Adalah: Pahami Pengertian, Jenis, dan Cara Menghitungnya
icon-lang
icon-lang

Fixed Cost Adalah: Pahami Pengertian, Jenis, dan Cara Menghitungnya

By Tim Blog Amartha - 13 Jun 2024 - 3 min membaca

Bagi perusahaan dan business owner, memahami fixed cost sangatlah penting agar bisnis mereka menghasilkan keuntungan. Lantas, apa yang dimaksud dengan fixed cost itu? Singkatnya, fixed cost adalah pengeluaran bisnis yang konstan, berapapun permintaan suatu produk.

Untuk memahami lebih jauh tentang fixed cost (biaya tetap), simak terus artikel ini! Kamu akan diajak untuk mempelajari seluk beluk biaya tetap, mulai dari pengertian, jenis, contoh, dan cara menghitungnya.

Apa Itu Fixed Cost?

Fixed cost atau biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah meskipun volume produksi atau penjualan berubah. Biaya ini tetap konstan dalam jangka pendek, artinya tidak dipengaruhi oleh naik turunnya jumlah barang atau jasa yang diproduksi.

Dalam bisnis, biaya tetap juga dikenal sebagai biaya overhead atau biaya tidak langsung, karena biaya tersebut tidak berhubungan langsung dengan biaya produksi barang dan jasa. Itu sebabnya biaya tetap muncul sebagai biaya operasional dalam laporan laba rugi perusahaan.

Biasanya, tujuan utama para pebisnis memahami fixed cost adalah untuk membantu mereka dalam menganggarkan, memperkirakan, dan mengurangi pengeluaran bisnis tetap yang tidak perlu. Sebagai contoh, bisnis kamu biasanya mengeluarkan hingga 70% dari total pengeluaran untuk gaji atau biaya tenaga kerja tetap. 

Kalau sudah begini, bisnis kamu kemungkinan besar akan kesulitan mengatur arus kas dan keberlanjutan keuangan. Untuk itu, kamu harus mengoptimalkan biaya tetap supaya bisa meningkatkan margin keuntungan dan mengurangi pengeluaran.

Jenis dan Contoh Fixed Cost

Fixed cost adalah elemen penting dalam manajemen keuangan bisnis. Ada beberapa jenis fixed cost yang biasa diterapkan dalam dunia bisnis, di antaranya:

1. Discretionary Fixed Cost

Jenis biaya tetap ini juga sering dikenal dengan istilah biaya terkelola atau biaya terprogram. Discretionary fixed cost adalah biaya yang ditentukan oleh keputusan kebijakan manajemen. Biaya ini spesifik untuk periode tertentu dan dapat disesuaikan berdasarkan kebijakan perusahaan.

Contohnya adalah pengeluaran untuk periklanan, pemasaran, pelatihan karyawan, penelitian, dan pengembangan produk. Setiap tahun, manajemen meninjau biaya-biaya ini dan memutuskan apakah akan meningkatkannya atau menguranginya berdasarkan anggaran dan tujuan strategis perusahaan. 

Misalnya, jika perusahaan ingin meluncurkan produk baru, mereka mungkin meningkatkan anggaran untuk penelitian dan pengembangan serta kampanye pemasaran.

2. Committed Fixed Cost

Committed fixed cost atau biaya kapasitas adalah kewajiban keuangan jangka panjang yang harus ditanggung perusahaan untuk mempertahankan kapasitas produksinya. Yang termasuk ke dalam biaya kapasitas adalah pajak properti, depresiasi aset, dan biaya asuransi. 

Mari ambil contoh pajak properti. Katakanlah pabrik A memiliki fasilitas produksi seluas 5.000 meter persegi. Setiap tahun, perusahaan tersebut harus membayar pajak properti (PPh, PBB, PPN, BPHTB) dengan total sebesar 100 juta rupiah.

Tidak peduli apakah pabrik A memproduksi 1.000 unit atau 10.000 unit, pajak properti ini nilainya tetap dan harus dibayar. 

3. Direct Fixed Cost (Biaya Tetap Langsung)

Direct fixed cost adalah biaya yang harus dibayar oleh bisnis selama proses produksi dan pengiriman barang atau jasa. Biaya ini tidak berubah dengan jumlah unit yang diproduksi atau dijual. Contohnya biaya sewa fasilitas produksi, termasuk sewa pabrik, mesin, atau peralatan yang digunakan dalam produksi.

Baca Juga: 8 Cara Memulai Usaha dari Nol untuk Pemula

4. Indirect Fixed Cost (Biaya Tetap Tidak Langsung)

Biaya tetap tidak langsung adalah pengeluaran yang tidak berkaitan langsung dengan produksi barang atau penyediaan jasa. Contohnya adalah gaji karyawan tetap yang tidak berhubungan langsung dengan hasil produksi, seperti staf administrasi, manajer, dan tenaga pemasaran. 

Meskipun mereka tidak terlibat langsung dalam proses produksi, keberadaan mereka esensial untuk operasional bisnis yang efisien. Biaya tetap tidak langsung juga mencakup utilitas umum seperti listrik, air, dan internet yang digunakan oleh seluruh organisasi.

Selain contoh-contoh yang sudah disebutkan di atas, berikut ini beberapa contoh lain fixed cost yang umumnya dikeluarkan oleh perusahaan:

Depresiasi: penurunan biaya suatu aset berwujud (seperti peralatan produksi) selama masa manfaatnya karena keusangan, penggunaan, dan keausan.

Amortisasi: mengacu pada pembayaran utang terjadwal dan angsuran yang telah ditentukan sebelumnya untuk aset tidak berwujud seperti paten.

Premi asuransi: premi berkala suatu perusahaan berdasarkan suatu kontrak asuransi termasuk asuransi karyawan, asuransi mesin, dan asuransi kendaraan pengangkutan.

Beban bunga: beban utang yang dibayarkan perusahaan terhadap pinjaman seperti pinjaman, jalur kredit, utang konversi, dan obligasi.

Beban legal: biaya yang berkaitan dengan proses pengurusan legalitas perusahaan.

Biaya periklanan: biaya yang dikeluarkan bisnis untuk aktivitas promosi, seperti kampanye pemasaran, iklan, survei, giveaway, dll.

Cara Menghitung Fixed Cost dan Contohnya

Selain memahami tentang pengertian, jenis, dan contohnya, mengetahui cara menghitung fixed cost adalah suatu keharusan bagi pebisnis. Berikut ini rumus penghitungan fixed cost yang bisa kamu gunakan:

Fixed cost = Total biaya produksi – (biaya variabel per item  x total jumlah item yang diproduksi)

Katakanlah ada sebuah produsen mochi rumahan yang mampu memproduksi 500 box mochi setiap bulannya. Biaya variabel setiap box adalah Rp5.000 dan ia menghabiskan total produksi Rp5.000.000 (untuk sewa booth, peralatan, biaya utilitas). Maka, biaya tetap per bulannya adalah:

Rp5.000.000 – (Rp5.000 x 500) = Rp5.000.000 – Rp2.500.000 = Rp2.500.000

Selain dengan rumus di atas, kamu juga bisa menjumlahkan semua biaya tetap yang terdapat dalam bisnis kamu. Supaya tidak bingung, kamu bisa mengikuti langkah-langkah di bawah ini:

1. Buatlah Daftar Semua Biaya

Langkah pertama adalah membuat daftar lengkap semua biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan. Biaya ini bisa mencakup segala sesuatu mulai dari sewa, gaji, bahan baku, utilitas, hingga biaya pemasaran. Pastikan untuk mencatat setiap pengeluaran dengan detail dan dalam periode waktu yang sama, misalnya bulanan atau tahunan.

2. Pisahkan Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Setelah membuat daftar semua biaya, langkah berikutnya adalah memisahkan biaya tetap dari biaya variabel. Misalnya, perusahaan mengeluarkan Rp50 juta untuk gaji karyawan, Rp20 juta untuk belanja bahan baku, Rp5 juta untuk biaya pengiriman, Rp2 juta untuk pengemasan, dan Rp5juta untuk pembayaran utilitas.

Yang termasuk fixed cost adalah gaji karyawan, sewa fasilitas, dan pembayaran utilitas. Sedangkan belanja bahan baku, ongkos kirim, dan pengemasan termasuk biaya variabel.

3. Jumlahkan Semua Biaya Tetap

Setelah memisahkan biaya tetap dan biaya variabel, jumlahkan semua biaya tetap yang telah diidentifikasi. Tambahkan setiap item dalam daftar biaya tetap untuk mendapatkan total biaya tetap perusahaan.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa fixed cost adalah pengeluaran bisnis yang tidak berubah seiring dengan peningkatan dan penurunan tingkat produksi atau penjualan di luar modal awal. Biaya-biaya ini mungkin bisa berubah di masa depan namun tetap sama selama suatu periode anggaran. 

Pinjaman Kelompok Amartha

Sebagai pebisnis, mengetahui fixed cost sebagai elemen dalam membuka bisnis adalah hal yang penting. Dengan ini kini kamu tentunya sudah lebih terbayang untuk membuka usaha, kan?

Untuk kamu yang sedang mempersiapkan membuka usaha, memiliki modal awal adalah dapat menjadi hal utama yang perlu kamu lakukan.

Bicara tentang modal awal, ada berbagai cara untuk mencari modal awal, salah satu alternatif yang cocok untukmu yakni menggunakan pinjaman kelompok dari Amartha.

Dengan pinjaman ini, maka kamu bisa dapatkan modal usaha untuk dipakai secara produktif. Selain itu, kamu juga bisa mendapatkan pendampingan UMKM, sehingga perjalanan bisnismu dapat menjadi lebih lancar dan terkendali.

Ada berbagai keuntungan yang bisa kamu dapatkan dengan pinjaman kelompok ini, yaitu sebagai berikut:

1. Pengajuan pinjaman mudah

2. Pengajuan dilakukan secara berkelompok, dengan risiko yang sudah terukur

3. Pencairan dana dapat diproses dengan cepat, serta tidak ada potongan untuk biaya administrasi.

4. Akan mendapat pendampingan bekala untuk UMKM, dengan layanan yang amanah dan ramah untukmu

Wah, ternyata cukup banyak keuntungan yang bisa kamu dapatkan dari pinjaman kelompok ini. Untuk proses pinjaman modal usaha, kamu dapat melakukannya dengan mengikuti langkah berikut:

1. Membentuk kelompok dengan jumlah 15 sampai 25 orang yang memiliki domisili berdekatan.

2. Melakukan pendaftaran profil usaha, supaya nantinya bisa melakukan proses verifikasi. Lalu, setiap calon mitra diberikan skor kredit dan angka atau jumlah pinjaman yang telah disetujui.

3. Melakukan akad kredit antara mitra dengan petugas dari Amartha untuk proses pencairan dana, sesuai dengan jumlah pinjaman yang disepakati.

4. Melakukan pertemuan kelompok mingguan yang telah difasilitasi oleh Amartha. Ini dilakukan sepanjang masa peminjaman modal usaha.

Mau dapat keuntungan lebih besar? Kamu juga bisa menjadi agen Amartha, loh. Segera dapatkan berbagai informasi lebih lanjut di sini dan maksimalkan usaha yang menjanjikan.

Bagaimana? Mudah, bukan? Jangan tunda lagi, segera daftarkan dirimu untuk menjadi mitra Amartha sekarang!

Artikel Terkait

belajar bisnis pemula

Bingung Memulai Bisnis? Berikut Cara Belajar Bisnis Pemula

Tips Bisnis
Fixed cost adalah

Fixed Cost Adalah: Pahami Pengertian, Jenis, dan Cara Menghitungnya

Tips Bisnis
bisnis idul adha

7 Peluang Ide Bisnis Idul Adha Paling Menguntungkan

Tips Bisnis
cara menghitung HPP

Begini Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) dengan Mudah!

Tips Bisnis

Ada pertanyaan seputar artikel di blog Amartha? atau ingin mengirimkan artikel terbaik kamu untuk di publish di blog Amartha?

Hubungi Kami SEKARANG

https://access.amartha.com/uploads/invite_a21debce13.png