Loading...
Loading...

Uang sering terasa cepat habis saat pengeluaran kecil dilakukan tanpa catatan. Kopi, ongkir, langganan aplikasi, hingga belanja saat diskon dapat menggerus saldo secara perlahan. Karena itu, Gen Z budgeting membantu anak muda membagi uang sesuai kebutuhan, tujuan, dan kemampuan.
Budgeting berarti membuat rencana penggunaan uang dalam periode tertentu, biasanya bulanan. Cara ini dapat dipakai mahasiswa yang mendapat uang saku maupun pekerja yang baru menerima gaji. Kuncinya adalah mengetahui arus uang masuk dan keluar secara jujur.
Gen Z budgeting adalah cara mengatur uang yang disesuaikan dengan kebiasaan Generasi Z, terutama penggunaan transaksi digital yang tinggi. Anggaran tidak harus rumit atau memakai banyak rumus. Pembaca bisa memulainya lewat catatan sederhana di ponsel.
Tujuan utamanya ialah memastikan kebutuhan utama tetap terpenuhi sebelum uang dipakai untuk hiburan atau belanja impulsif. Dengan anggaran yang jelas, keputusan belanja juga terasa lebih terukur. Kebiasaan ini dapat membantu menyiapkan dana darurat dan target masa depan.
Otoritas Jasa Keuangan menjelaskan bahwa literasi keuangan mencakup pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan untuk mengelola keuangan dengan lebih baik. Pemahaman tersebut menjadi dasar sebelum seseorang memilih produk keuangan atau mulai berinvestasi. Sumber: Otoritas Jasa Keuangan dalam Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia 2021 sampai 2025.
Kebutuhan adalah pengeluaran yang mendukung hidup sehari hari, seperti makan, transportasi, tempat tinggal, dan tagihan. Sementara itu, keinginan mencakup barang atau aktivitas yang menyenangkan tetapi masih dapat ditunda. Misalnya, membeli makan siang termasuk kebutuhan, sedangkan memesan kopi setiap hari dapat masuk pos keinginan.
Anggaran mahasiswa tentu berbeda dengan pekerja yang sudah membayar kos dan cicilan. Jangan meniru pembagian uang teman jika sumber penghasilan dan tanggung jawabnya tidak sama. Budget yang realistis lebih mudah dijalankan dalam jangka panjang.
Transaksi digital membuat pembayaran terasa cepat karena tidak selalu melibatkan uang tunai. Di sisi lain, kemudahan ini bisa membuat seseorang kurang sadar terhadap jumlah pengeluaran hariannya. Promo, gratis ongkir, dan metode bayar nanti juga perlu disikapi dengan hati hati.
Media sosial turut memengaruhi keputusan belanja. Konten gaya hidup dapat memunculkan rasa takut tertinggal atau FOMO, yaitu rasa khawatir saat tidak mengikuti tren. Namun, tren tidak harus selalu diikuti jika kondisi keuangan belum memungkinkan.
Bank Indonesia mencatat pembayaran digital terus berkembang seiring penggunaan layanan berbasis teknologi. Perkembangan ini memberi kemudahan transaksi, sekaligus membuat pencatatan pengeluaran menjadi semakin perlu dilakukan. Sumber: Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian Indonesia 2023.
Pengeluaran bernilai kecil sering dianggap tidak berarti, padahal totalnya dapat besar dalam satu bulan. Coba periksa riwayat transaksi dompet digital setiap akhir pekan. Dari sana, pembaca bisa melihat pos mana yang paling sering menghabiskan uang.
Paylater adalah fasilitas pembayaran yang memungkinkan pembelian dilakukan sekarang dan dibayar kemudian. Fasilitas ini tetap menjadi kewajiban yang harus dilunasi, termasuk biaya atau bunga sesuai ketentuan penyedia layanan. Gunakan hanya untuk kebutuhan yang sudah direncanakan dan mampu dibayar.
Gen Z budgeting dapat dimulai tanpa aplikasi berbayar atau pengetahuan finansial yang rumit. Sediakan waktu sekitar 15 menit setiap minggu untuk memeriksa pemasukan, pengeluaran, dan tagihan mendatang. Langkah kecil yang konsisten biasanya lebih efektif daripada membuat aturan ketat lalu berhenti di tengah jalan.
Metode 50 30 20 dapat menjadi titik awal. Sebanyak 50 persen uang dialokasikan untuk kebutuhan, 30 persen untuk keinginan, dan 20 persen untuk tabungan atau pembayaran utang. Pembagian ini boleh diubah sesuai kondisi, terutama bila biaya tempat tinggal cukup besar.
OJK mengingatkan masyarakat untuk memahami kemampuan finansial sebelum menggunakan produk dan layanan keuangan. Prinsip ini juga relevan saat membuat anggaran pribadi, karena pengeluaran sebaiknya mengikuti pemasukan yang benar benar tersedia. Sumber: Otoritas Jasa Keuangan dalam Buku Saku Cerdas Mengelola Keuangan.
Catatan tersebut dapat dibuat di aplikasi catatan, spreadsheet, atau buku kecil. Pilih cara yang paling nyaman agar kebiasaan ini tidak terasa membebani.
Dana darurat adalah simpanan untuk kebutuhan mendesak, misalnya saat ponsel rusak, kehilangan pekerjaan, atau harus berobat. Mulailah dari nominal kecil yang mampu disisihkan, seperti lima atau sepuluh persen dari pemasukan. Setelah itu, simpan dana ini terpisah dari rekening belanja harian.
Budget yang meleset bukan berarti gagal total. Cari penyebabnya, misalnya biaya transportasi naik atau ada kebutuhan keluarga yang mendadak. Dengan evaluasi rutin, Gen Z budgeting dapat berkembang menjadi kebiasaan yang fleksibel dan sesuai kehidupan sehari hari.